|
Saturday, 20 December 2008 20:09 |
|
Sejak terjadinya Gerakan 30 September / PKI tahun 1965 tidak pernah lagi lepas dari benaknya bagaimana melanjutkan pengkaderan dengan cara yang lebih matang. Dia sangat mensyukuri sistem pengkaderan yang dilakukan oleh PII, HMI, Pemuda Muhammadiyah, GP-Anshor dan pelajar-pelajar,pemuda-pemudi, mahasiswa-mahasiswi Islam yang lain. Karena tidak dapat disangkal bahwa dengan adanya pengkaderan-pengkaderan yang walaupun berjalan apa adanya, ada yang menjadi garda dan ujung tombak pengganyangan terhadap organisasi kebathilan yang ingin memadamkan cahaya Islam itu. Namun ke depan, pengkaderan harus diprogram lebih intensif untuk menelorkan kader-kader yang lebih mumpuni dan lebih konsisten didalam memperjuangkan dan mempertahankan nilai-nilai Islam. Muhsin Kahar menganggap bahwa Gerakan Komunis yang berhasil ditumbangkan itu hanya sebagian kecil dari bentuk gerakan kebathilan. Akan muncul gerakan-gerakan lebih dahsyat dalam bentuk dan nama yang lain. Sehingga kita tidak boleh terlalu euforia dengan kemenangan yang telah kita raih. Kita jangan terpana dengan hasil yang telah kita dapatkan tapi harus segera bangkit mempersiapkan kader-kader yang lebih matang dan lebih siap pakai. |
|
Read more...
|
|
Friday, 19 December 2008 20:33 |
|
Penjudian dalam bentuk lotre yang dinamakan lotto, singkatan dari lotre totalisator ini, sangat besar daya rusaknya kepada masyarakat. “Kalau penjudian gaya baru ini dibiarkan berlanjut, masyarakat akan mengalami kehancuran yang sulit dibayangkan. Karena disamping hartanya akan habis ditelan judi, juga moralnya mengalami degradasi yang luar biasa. Mengapa tidak? Berbarengan hadirnya judi dalam bentuk lotre ini, muncul pula peramal-peramal dadakan diseluruh sudut-sudut kota yang untaian-untaian kalimatnya dikutip dari mimpi semalam kemudian dituang dalam bentuk tulisan lalu penjudi memberi tafsir terhadap mimpi itu. Hasil tafsir itulah dijadikan pegangan untuk memenangkan undiannya setiap malam dengan terlebih dahulu menebak salah satu angka atau lebih dari 49 angka. Tokoh peramal waktu itu seorang haji bernama Haji Sulaimana. Ini menyeret masyarakat kecil yang ingin segera merubah nasib dengan instan ke lembah kesesatan”. Demikian sering diungkapkan Ustadz Muhsin Kahar dan muballigh-muballigh di Makassar pada umumnya kala itu. |
|
Read more...
|
|
Friday, 19 December 2008 20:29 |
|
Usai pendidikan muballigh di Makassar Muhsin Kahar berangkat ke Surabaya dengan mengajaka Usman Palese untuk seterusnya ingin mengikuti pendidikan di Pondok Modern Gontor. Memang keduanya sempat mendaftar dan ikut belajar tapi hanya seminggu lalu pindah ke PERSIS Bangil. Di Pesantren Bangil juga hanya 3 bulan. Di Pesantren yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Qadir Hassan ini, tidak banyak belajar karena Ustadz Mansyur Hassan ( adik kandung Ustadz Abdul Qadir Hassan, putera Ustadz Ahmad Hassan), senang mengajak diskusi bahkan selalu ditugaskan membawakan khutbah Jum’at dan ceramah-ceramah di Mesjid Persis. Selama di Pesantren Bangil Ustadz Muhsin Kahar banyak di bantu oleh sepupunya di Surabaya, Jaksa Arsyad Hasan, SH (mantan kepala Kejaksaan Negeri di beberapa kota Jawa Timur, seperti Nganjuk, Bangkalan, dll, terakhir diangkat menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di NTB tetapi minta pensiun dini). Dia sangat senang jika berada di tempat saudaranya ini karena Puang Aresya, demikian panggilan akrabnya dikalangan keluarga, senang sekali berdiskusi masalah hukum dan politik dan juga hal-hal yang menyentuh agama. Disamping itu kemanakan-kemanakannya di tempat itu, anak Pak Arsyad: Makmun, Bustamin, Sahrah, Nasrah, Halda, Hurlina semuanya selalu bermanja-manja kepadanya.
|
|
Read more...
|
|
Bangkit di Tengah Kegagalan |
|
|
|
|
Friday, 19 December 2008 20:15 |
|
Namun yang terjadi tiba-tiba rencana belajar di Cina itu dibatalkan, karena ulama-ulama yang tadinya telah bersedia berangkat oleh pengurus Muhammadiyah dilarang. Rupanya tiba-tiba muncul keraguan dan kecurigaan bahwa apa yang dinyatakan oleh anak-anak muda itu kurang meyakinkan. Dikhawatirkan kalau ulama-ulama itu sudah berada di tempat yang dimaksud lalu dibiarkan tidak ada yang urus. Karena biasanya anak-anak muda itu hanya peryataannya yang lantang tapi kerjanya tidak sebagaimana pernyataannya. Apa yang dikhawatirkan orang-orang tua itu tentu saja didukung oleh alasan yang kuat terutama kalau ditinjau dari kondisi keorangtuaan. Apalagi belum ada bukti yang meyakinkan yang pernah diperlihatkan sebelumnya kecuali keyakinan bahwa Muhsin Kahar adalah seorang pekerja keras yang selalu penuh kesungguhan menangani amanah yang diberikan kepadanya .[18] Namun yang disesalkan kenapa rencana itu disepakati, setelah cukup lama dibicarakan bahkan telah diperintahkan untuk bergerak memulai pekerjaan itu lalu kemudian dibatalkan. Tentu saja Muhsin Kahar dan kawan-kawan menjadi kecewa dengan keputusan seperti itu. Namun mau diapakan lagi. Untuk menjaga akhlak tidak mungkin mencak-mencak didepan orang tua sambil menuding sebagai orang yang tidak tetap pendirian. Karena mungkin ada benarnya yang dikemukakan orang-orang tua di Muhammadiyah itu tentang keterbatasan pandangan dan tinjauan anak-anak muda.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|