| Ber-Khadijah |
|
|
|
| Kondisi pra Wahyu | |||
| Monday, 19 January 2009 07:00 | |||
|
Fase berikut yang dilakoni Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu atau memasuki kepemimpinan profetik, Muhammad menempuh dulu kehidupan berumah tangga. Beliau nikah dengan Khadijah dengan mahar 400 dinar. Kalau dirupiahkan dengan nilai sekarang = Rp 340.000.000,-. Dari mana uang sebanyak itu diambil oleh Muhammad ? Adalah hasil cucuran keringatnya mengantar barang dagangan Khadijah sebanyak 15 kali dan tiap kali berangkat diupah 2 ekor onta betina. Bahkan keberangkatannya yang terakhir mendpat upah 4 ekor onta betina. Sebagian dari upahnya itu diserahkan kepada pamannya, untuk membantu menanggulangi kesulitan ekonomi yang dialaminya. Jadi pernikahnannya dengan Khadijah bukan gratis. Tapi dari hasil tabungannya selama bekerja sebagai karyawan Khadijah. Pernikahan Nabi ini memiliki banyak nakna. Dapat juga bermakna untuk lanjutan pengikisan thaga’ (sifat arogansi), karena betapapun kaya dan cantiknya Khadijah usianya 15 tahun lebih tua dari Nabi dan sudah janda dua kali beranak dua. Dengan menikahi Khadijah betapapun juga orang tetap mengatakan bahwa, pemuda ganteng beristri janda beranak dua. Maka seorang jejaka seperti Muhammad tidaklah pantas berbangga dengan kebanggaan yang sempurna dengan menikahi Khadijah. Tapi yang mendominasi pikiran dan perasaan Muhammad adalah akhlak dan jiwa pengorbanan Khadijah yang begitu mencolok dalam dirinya yang justru sangat diperlukan untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Disana bukan nafsu yang dominan. Baik cara Khadijah memandang Muhammad ataupun cara Muhamamd memperhitungkan Khadijah. Dan ternyata sangat terasa setelah Muhammad menjadi Nabi bahwa sosok Khadijah adalah bahagian yang sangat penting dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dan nampak gusar karena belum mengetahui persis apa yang terjadi atas dirinya nampak sekali peranan Khadijahlah yang langsung meyakinkan bahwa, “Wahai putra pamanku, bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah tidak akan mencemoohkan engkau, karena engkaulah yang mempererat tali persaudaraan, jujur dalam kata-kata, engkau mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang kesulitan atas jalan yang benar”. Menjelang wafat dia menangis. Nabi heran apa gerangan yang ditangisi Khadijah, istri yang sangat dicintainya itu. Dia berujar ketika ditanya oleh Nabi, “Saya menangis bukan karena apa tapi karena tidak ada lagi yang dapat saya korbankan untuk perjuangan. Kalau saya meninggal nanti dan tulang-tulang saya ada gunanya untuk perjuangan, maka gunakanlah tulang-tulang saya itu untuk perjuangan”. Setelah santri-santri dianggap dewasa; sudah memenuhi syarat untuk berumah tangga, Ustadz Abdullah Said segera mengupayakan mencarikan mereka jodoh. Karena bagaimanapun kemampuan kepemimpinan seorang kader, kalau belum berumah tangga , tidak dapat diandalkan. Maka program pernikahan ini menjadi program penting untuk dapat menampilkan seorang pemimpin yang bertanggung jawab, karena memimpin sebuah rumah tangga adalah langkah awal memimpin masyarakat. Pada waktu pesantren belum mampu melaksankan pernikahan kader-kader yang dianggap sudah tiba waktunya untuk nikah, dinikahkan di rumahnya. Seperti Hasan Suradji, seorang kader awal dengan Asmah, juga santri awal. Usman Palese nikah di kampungnya di Pinrang dengan sorang putri di kampung itu, Noorhidayah kemudian diboyong ke Balikpapan. Nazir Hasan dengan juga dilaksanakan di kampungnya di Sumatra Barat kemudian memboyong isterinya, Suryati, ke Gunung Tembak. Usman Asy'ari nikah di rumahnya di Balikpapan dengan Hasanah Luqman, keduanya sebagai kader awal. Setelah hijrah ke Gunung Tembak, pernikahan sudah dapat dilaksanakan sendiri oleh Pesantren walaupun dengan cara yang sangat sederhana. Dinikahkanlah Amin Mahmud dengan Mar'fuah keduanya sebagai santri awal Ustadz Abdullah Said, dalam keadaan kampus Gunung Tembak masih terdiri dari hutan belukar, masih sangat bersahaja. Pernikahan berikut adalah M.Hasyim HS dengan Rusmala Dewi pernikhan antara murid dengan gurunya. Pelaksanaan pernikahan yang sangat sederhana. Suguhannya hanyalah sayur terong yang diberi bumbu. Tapi masya Allah terasa sekali bagi orang yang menyaksikannya bahwa cukup berberkah dan membahagiakan. Seterusnya A.Hasan Ibrahim dan Elliya Noor, M.Yahya dengan Rohana (adik kandung M.Hasyim Hs), Pernikahan yang lebih dari satu pasang adalah pernikahan Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati H.Rowa dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah. Ini agak meningkat hidangannya karena disamping sayur terong ada bantuan daging dari rumah mertua A.Qadir Jailani dari Kampung Baru – Balikpapan. Demikianlah pernikahan itu terus menerus dilaksanakan dengan jumlah yang bervariasi: 1977 sejumlah 2 pasang, 1979 sebanyak 3 pasang, 1980 5 pasang, 1983 3 pasang, 1984 7 pasang, 1985 12 pasang, 1989 31 pasang, 1991 47 pasang, 1994 61 pasang, 1996 13 pasang, 1997 100 pasang, 1998 20 pasang, 2000 47 pasang, 2001 4 pasang, 2002 57 pasang, 2003 44 pasang, 2004 6 pasang, 2006 28 pasang. 2007 pasang, dan 2008 25 Pasang
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 568 Comments (0)
![]() Write comment
|







