Wednesday, 08 February 2012   15. Rabi-ul-Awwal 1433
Keringat dingin dan Ustadz Baringin PDF Print E-mail
Kursus Muballigh Yang Tidak Pernah Berhenti
Written by Admin   
Tuesday, 03 February 2009 07:00
Abdul Qadir Jailani, Yusuf Suradji, Sarbini Nasir, ditugaskan ke Kabupaten Bulungan.  Banyak kesulitan yang dialami sebagai muballigh pemula di wilayah yang dihuni banyak orang Dayak ini.  Juga sebagai wilayah  yang masih didominasi  kerajaan.  Dan perlu diketahui bahwa Kabupaten Bulungan  dengan Tanjung Selor sebagai ibu kotanya membawahi daerah-daerah Tarakan dan Nunukan sampai keperbatasan Malaysia.  Dari segi pemahaman agama masyarakatnya bukan baru mulai mengenal Islam, sudah cukup lama menganut agama Islam dan sangat fanatik.
Hanya pemahamannya sangat tradisional mengikuti pendapat ulama-ulama yang memerlukan interpretasi untuk menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Sehingga harus berhati-hati menghadapinya. Pada hal kapasitas keilmuan dan kemampuan retorika yang dimiliki ketiga orang kader ini sangat tidak memadai. Hanya jiwa besar dan ketaatanlah yang mengusungnya sehingga dapat sampai ke tempat tugas menjalankan amanah yang teramat berat ini. Yang sudah dapat di tampilkan untuk membawakan khutbah barulah Abdul Qadir Jailani. Kedua temannya, Sarbini Nasir dan Yusuf Suradji, untuk ceramah biasa saja masih tersendat-sendat. Seperti yang dikatakan Ustadz Abdullah Said di Gunung Tembak pada waktu usia mendengar Yusuf Suradji ceramah bahwa, “Kalau Yusuf membaca ayat seperti berbahasa Sangsekerta”.  Namun realitas di lapangan berbicara bahwa dengan segala kekurangan yang dimilikinya itu, justru menjadi kelebihan karena tidak terlalu banyak perhitungan dalam memperkenalkan Hidayatullah di Wilayah Kesultanan Bulungan.

Dari Balikpapan Abdul Qadir Jailani dan Yusuf Suradji mendarat di Tarakan menggunakan pesawat terbang.  Seterusnya menyeberang ke  Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan dengan menggunakan klotok menyusuri sungai.   Mereka mendapat perlakuan agak istimewa karena membawa rekomendasi dari H. Asnawie Arbain, ). Sehingga setengah bulan lamanya  bertempat tinggal di penginapan, namanya Penginapan Sentosa. Makannya di hotel , Hotel Beringin. Namun alangkah kagetnya muballigh yang baru memulai debutnya ini, tiba-tiba oleh Pemerintah Daerah Bulungan melalui Departeman Agama mengumpulkan semua pegawai Pemda yang beragama Islam dan masyarakat pada umumnya di Mesjid Raya untuk mendengarkan ceramah agama yang akan dibawakan oleh muballigh  yang baru datang dari Balikpapan. Lebih seram lagi karena pengumuman ini disampaikan lewat mobil keliling dengan menggunakan pengeras  suara. Abdul Qadir Jailani sempat gemetar dan keluar keringat dingin. Pada waktu tampil bicara dia hanya mampu berbicara lima belas menit. Menurut pengakuannya nampak sekali kekecewaan orang-orang yang hadir waktu itu karena tidak seperti yang diduga sebelumnya.

Tidak lama kemudian menyusul Sarbini Nasir. Selama berada di penginapan itu ketiga orang petugas da’wah ini merasa seperti ayam ras dalam kandang yang hanya makan dan minum serta tidur. Akhirnya mereka minta agar ditunjukkan tempat untuk ber da’wah karena tujuannya ke tempat ini untuk berda’wah. Akhirnya Pemda menunjukkan tempat di Tanjung Palas, sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Tanjung Selor. Disebuah rumah kosong mereka bertiga baru merasakan kebebasan dengan memasak sendiri ala santri. Di tempat ini mereka kena cobaan dengan  hantaman badai yang dahsyat yang merobohkan sebuah pohon binjai yang tepat menimpa bagian dapur rumah yang ditempati hingga hancur. Untung ketiganya dapat selamat dari terpaan pohon itu. 
 
Dari Tanjung Palas inilah mereka mulai menjalankan tugas da’wah dengan baik. Abdul Qadir Jailani bertugas di sebuah daerah yang agak jauh ke utara  yakni di Sekatak Buji dan Sekatak Bengara. Yusuf Suraji  bertugas di Salim Batu  yang letaknya tidak jauh ke sebelah utara Tanjung Selor. Sedang Sarbini Nasir bertugas di  daerah yang namanya Antutan terletak disebelah Barat Daya Tanjung Selor, sering juga ditemani oleh Abdul Qadir Jailani. Konon daerah itu dinamai demikian adalah diambil dari singkatan hantu dan setan karena dianggap oleh penduduk daerah itu dulunya banyak sekali hantu dan setan yang gentayangan.  Kesulitan yang dihadapi di daerah ini karena disatu sisi suku-suku Dayak yang telah ratusan orang diislamkan oleh H. Asnawie Arbain ketika menjadi Bupati di daerah ini, tidak ada tenaga pembinanya sehingga Abdul Qadir Jailani cukup kewalahan. Di Kedua Sekatak yang ditempati berda’wah ini tidak pernah kosong dari jadwal da’wah siang dan malam. Sehingga suatu malam saking lelahnya ketika kembali dari berda’wah bantalnya terbakar oleh obat anti nyamuk yang nyaris membakar badannya. Nanti setelah dibangunkan oleh yang punya rumah barulah dia sadar. 
 
Dilain sisi terutama di daerah dekat kota cukup banyak muballigh yang sudah dikenal seperti seorang Ustadz yang diberi gelar Ustadz Baringin. Dinamakan demikian karena dia aktif sekali di Golkar. Ustadz ini terkenal juga dengan keberaniannya menangkap ular. Selain itu ada Seikh Godal, murid pertama Seikh Al-Jufri, Al-Khairat di Palu yang mendirikan Perguruan Al-Khairat di Bulungan, dan lain-lain. Namun menurut pengakuan orang yang sering mendengarkan ceramah yang dibawakan muballigh Hidayatullah dikatakan bahwa ada menu khusus yang dihidangkan  muballigh-muballigh Hidayatullah yang rasanya beda dari hidangan lain. Muballigh-muballigh Hidayatullah sendiri kurang mengerti menu bagaimana yang dimaksudkan itu. Apalagi ini muballigh yang baru tampil, rasanya belum wajar mendapat pujian seperti itu

Dalam penugasan ini yang paling banyak frekwensi ceramahnya adalah Abdul Qadir Jailani karena memang dialah yang paling menonjol kemampuannya dibanding kedua  petugas yang lain.  Yusuf Suradji dan Sarbini Nasir masih sering mengalami kesulitan dalam ceramah. Seperti ketika suatu waktu Yusuf Seradji berkhutbah sampai dua kali mengucapkan salam. Satu kali dikala mulai dan yang kedua ketika berdiri dari duduk untuk memulai khutbah kedua. Jama’ah sampai heran, kok ada lagi cara baru yang muncul.  Padahal itu disebabkan karena belum terbiasa. Bukan disengaja. Tiga bulan lamanya bertugas di tempat itu baru kembali ke Balikpapan untuk mendapatkan spirit baru. Calon santri yang berhasil diboyong ke Balikpapan adalah Mukhdar Al-Bansyir, seorang turunan Arab

Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Donation Account

Banner