| Ust. H. Agus Sutomo: Bersyukurlah Kita Ada di Hidayatullah |
|
|
|
| Ditulis oleh Ainuddin Chalik | |||
| Selasa, 17 Maret 2009 00:20 | |||
|
Pendidikan yang ada hari ini dominan telah menghantarkan peserta didik menjadi budak. Dengan sedemikian rupa metode dan sistem yang ada telah menggiring anak didik berorientasi dan berpola pikir kapitalis. Begitulah isi sebagian taushiah Ust. Agus Sutomo, salah seorang pendiri dan perintis Pesantren Hidayatullah Depok Jawa Barat, Ahad, 15/03/09 ba’da Maghrib di Masjid Ummul Quraa Kampus Pesantren Hidayatullah Depok. Pada kesempatan tersebut, hadir Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad yang juga menjadi imam shalat maghrib beserta Dr. Abdul Mannan, Ketua DPP Hidayatullah. Dalam taushianya, Ust. Agus yang sudah berkeliling dakwah seluruh Indonesia ini berpesan agar para santri dan mahasiswa tetap mempertahankan apa yang sudah dimilikinya. Menurutnya, santri patut bersyukur karena telah berada pada sistem yang tepat. ”Al Qur’an yang telah menjadi pilihan kita, hendaknya kita terus yakini dan perjuangkan. Tidak ada kemenangan selain diatas Al Qur’an dan As Sunnah” tuturnya. Pesan tersebut sarat sekali akan nilai nilai perjuangan yang juga sudah dilaluinya. Lebih lanjut kata Ust. Agus, kita semua ini beruntung karena dikawal dengan iman yang benar. Hanya Al Qur’anlah alternatif dan pilihan yang kokoh karena Ia (Al Qur’an) diawali dengan kepastian dan diakhiri dengan kesempurnaan. "Sedikit saja kita ragu terhadap Al Qur’an dan Hadits, maka kita harus bersyahadat ulang. Tidak ada yang benar kecuali Al Qur’an dan Hadits. Ini harus diyakini betul". tegas Ust. Agus Orang tua dari mantan Pimpinan Redaksi Majalah Hidayatullah, Wisnu Pramudya, ini juga sering mengamati fenomena aksi missionaris dibeberapa wilayah. Seperti misalnya di Jakarta, masih dalam ceramah beliau, ada salah satu orang Islam yang diperlakukan tidak manusiawi hanya karena ia seorang aktivis dakwah. Berawal ketika lelaki ini sakit usus buntu. Oleh kerabatnya, ia dibawah ke salah satu rumah sakit. Bertepatan rumah sakit yang didatangi untuk berobat tersebut notabene adalah milik orang Nasrani. Apa yang terjadi selanjutnya?. Lelaki tersebut semakin terkatung katung dalam sakitnya. Selama berminggu minggu ia tidak terperhatikan. Padahal menurut Ust. Agus, sakit usus buntu seperti itu bahkan hanya bisa selesai pengobatannya hanya dalam waktu 1-2 hari saja. Itu sudah termasuk bedah atau operasinya. Beruntung lelaki naas tersebut segera dirujuk ke salah satu Rumah sakit Islam. Disanalah Ia berhasil diselamatkan. Itulah salah satu fakta konkret bagaimana ”kerasnya” perlawanan para islamophobia ini terhadap Islam yang pernah diamati oleh Ust. Agus. Diakhir taushiahnya, Ustadz berpesan agar para jama’ah dan tidak mudah tepengaruh dengan realitas kehidupan hari ini yang kemarut dengan gaya hidup hedon, materialis, dan pragmatis. ”Hidayatullah telah memiliki konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu sebagai wujud oposisi terhadap sistem jahil yang ada hari ini. Bersyukurlah kita yang ada di Hidayatullah. Tidak ada jalan yang paling membahagiakan kecuali bersama Islam ini. Mati dan hidup kita hendaknya memang berporos pada jalan ini, yakni Islam. Saya yang sudah tua dan bau tanah tidak lagi bisa berbuat banyak seperti dulu. Kalianlah sekarang yang muda muda yang menjadi harapan. Marilah kita semua saling mendoakan dalan meniti jalan mulia ini” pesan Ust. Agus menutup taushiahnya. (*Nun)
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 706 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|









