| Meninggalkan Sulawesi Selatan dan Berkiprah di Kota Minyak |
|
|
|
| Meninggalkan Kota Daeng | |||
| Ditulis oleh Admin | |||
| Kamis, 01 Januari 2009 13:44 | |||
|
Setelah terjadi penggrebekan itu kawan-kawan di Pare-Pare sibuk menguruskan kapal untuk ditumpangi berangkat meninggalkan kota Pare-Pare. Sekaligus meniggalkan Sulawesi Selatan. Dianggap kota ini sudah tidak aman lagi untuk ditempati menyembunyikan diri. Kawan-kawan di Pare-Pare tidak lagi berfikir panjang pelabuhan mana yang akan dituju dan kapal apa yang ditumpangi. Apa akan menuju Irian, Surabaya, Samarinda atau entah kemana. Seperti layaknya orang diusir yang dipaksa naik kapal untuk segera berangkat tanpa memikirkan nasibnya. Ustadz Abdullah Said juga tidak lagi berfikir kota apa yang tepat dituju. Pokoknya kota mana saja yang dituju oleh kapal yang akan ditumpangi nanti, disitulah dia akan berbuat.
Dikota ini pulalah oleh kawan-kawan yang melindunginya memberi nama samaran Abdullah. Ternyata dia ditumpangkan disebuah kapal yang tujuan pelayarannya menuju Balikpapan. Kapal itu bernama K.M. Ganda Ria. Malam itu adalah Rabu malam menjelang hari natal, 25 Desember 1969. Cukup menegangkan karena kapten dari kapal itu yang seorang Nashara turun ke darat untuk melakukan kebaktian di gereja. Lama sekali baru muncul. Ustadz Abdullah Said khawatir kalau tercium oleh intel lalu dikejar ke kapal. Namun setelah membaca bacaan-bacan yang dia tahu dia kembali pasrah, menyerahkan diri kepada Allah SWT, dia sudah siap menerima apa saja yang menimpanya. Kapal yang ditumpangi itu memuat sapi, ayam dan sayur-sayuran. Diatas kapal dia diperkenalkan oleh teman yang mengantarnya ke kapal sebagai penjaga sapi yang akan dibawa ke Balikpapan. Ini untuk menghilangkan jejak sebagai buronan. Sehingga pada waktu sapi itu ribut mengganggu orang tidur dia dibangunkan orang untuk memperbaiki ikatan sapinya atau memperbaiki posisi kaki sapinya. Terpaksa dia pura-pura bangun dan mendekati sapi-sapi itu. Dua hari dua malam diombang ambing oleh gelombang Selat Makassar, barulah tiba di Pelabuhan Kampung Baru pada pagi hari Sabtu ,27 Desember 1969. Satu-satunya alamat yang dikenal adalah Kantor Kejaksaan Negeri Balikpapan, tempatnya Pak Muchtar PaE, kakak iparnya bekerja. Diapun berjalan kaki dari Kampung Baru ke kantor kejaksaan negeri di Kelandasan. Alangkah kagetnya Pak Jaksa Muchtar ketika melihat adik iparnya tiba-tiba ada dihadapannya dengan pakaian lusuh dan bersandal jepit yang warnanya berbeda antara yang kiri dengan yang kanan.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 749 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







