Rabu, 08 Februari 2012   15. Rabi-ul-Awwal 1433
Menggalang Anak Muda PDF Cetak E-mail
Meninggalkan Kota Daeng
Ditulis oleh Admin   
Sabtu, 03 Januari 2009 13:50
Setiap hari dia mengamati kehidupan beragama masyarakat Balikpapan. Keadaannya sangat  memprihatinkan.  Terasa gersang. Sangat berbeda keadaannya dibanding Sulawesi Selatan dan di Jawa. Dari satu sisi 40 tahun ketinggalan dari Sulsel. Tapi disisi lain sangat jauh tenggelam ke dalam kehidupan hedonisme. Dominasi perusahaan asing yang mengalirkan dollar seperti mengalirnya minyak bumi, sangat terasa. Abdullah Said tidak pernah berhenti berfikir dari mana memulai pembinaan masyarakat yang kondisinya seperti ini. Melirik anak-anak muda, umumnya sudah masuk dalam perangkap materi. Anak-anak yang belasan tahun sudah sangat kuat  semangatnya mencari duit.  Animo kepada urusan agama  hampir tidak ada. Ancaman kemaksiatan juga nampak semakin mengerikan. Carangnya  telah merambat masuk ke rumah-rumah tangga.
Langkah awal yang ditempuh adalah mencari bibit kader dengan mengadakan kursus muballigh, mengambil tempat di Mushalla Al-Ihsan, Gunung Sari. Dimulai pada bulan Maret 1970. Untuk  proses penggalangan ini dia sangat tertolong dengan kehadiran Amin Bachrun menjadi pendampingnya.  Orangnya memang meyakinkan integritasnya. Dan menyangkut Amin Bachrun ini memang   ada pesan khusus dari kakak kandung Ustadz Abdullah Said, M. Zubair Kahar, karena pernah menjadi pengawal pribadinya sewaktu menjadi Komandan Resimen DI/TII bahwa, “ Tau weddittu ri tanebbatunna”.  

Anak-anak muda disekitar mushalla itu banyak tertarik ikut, diantaranya: M. Amin Bachrun sendiri, Hasan Suradji, Yusuf Suradji, Manandring Abdul Ghani, Mukhtar Abdul Ghani, Marzuki Latief, Syahaluddin (penyiar Radio Amatir), Zainuddin Mukhtar, Bahriyah Muchtar, Hamsiah Muchtar, Ni'mah Muchtar, Abdul Hamid, Syahrul Edy, Suparno, Jamadi, Nabiyan Syah, Nashrullah, Nurdin, Muhammad Yusuf, Widodo, Syaiful Rasyid, Rusmini, Rukiyah Husen, Pianah, Supatni. Sebagai orang tua pelindung adalah H.Muhamamd Rasyid, Jaksa Muchtar PaE dan Pak Sangkala.  

Setelah kursus ini berlangsung dua bulan Ustadz Abdullah Said berangkat ke Jakarta karena tersebar berita bahwa Muhsin Kahar sedang dicari petugas untuk ditangkap. Kursus  dilanjutkan oleh salah seorang Ustadz dari Makassar, namanya Tommy Thompson, .

Tahun 1971,  Ustadz Abdullah Said mengadakan Training Centre (TC) yang disebut TC  Darul Arqom, bertempat di gedung SMP Muhammadiyah Gunung Kawi, Balikpapan. TC ini diadakan oleh Pengurus Muhamamdiyah Daerah Balikpapan. Peserta utamanya adalah siswa-siswa SMA Muhammadiyah yang telah dipilih oleh gurunya. Juga siswa-siswa dan sekolah umum yang dilibatkan oleh guru-guru Muhammadiyah yang mengajar di sekolah-sekolah tersebut. Tidak terkecuali orang-orang dewasa yang berminat. Tercatat pesertanya antara lain: Hasan Suradji, Suparno, Abdul Halim, Sudiono Arjo, Amin Mahmud, Sarbini Nasir, Nurkarim Enta, Makmur SK, Abdul Karim.

Pada tahun 1972, tepat bulan Ramadhan, diadakan TC Darul Arqom II. Panitia Pelaksana dari TC ini terdiri dari peserta TC Darul Arqom I. Pesertanya  antara lain:  Suwardhany Soekarno, Abdul Madjid Aziz, Wiji, Kustam Aji, Hasanah Luqman, Nurbaity.

Untuk memelihara hasil yang diperoleh dalam TC-TC , dan dalam rangka menggalang peserta-peserta tersebut agar dapat terus mengikuti pembinaan, Ustadz Abdullah Said mengadakan pengajian setiap hari Ahad yang dinamakan Up-Grading mental. Pesertanya untuk umum tapi lebih diutamakan mantan-mantan peseta kursus dan peserta TC.

Orang-orang yang pernah mendapat sentuhan pembinaannya sepertinya memang terpikat atau semacam ketagihan untuk mengikutinya. Apalagi Ustadz ini cukup berpengalaman membina dalam organisasi-organisasi tempatnya berkiprah sewaktu masih di Makassar, sehingga sangat  memahami  bagaimana mengarahkan anak-anak muda. Lewat pembinaan itu mereka tiba-tiba merasa memiliki kekayaan jiwa dan optimisme menghadapi masa depannya.  Tidak seperti sebelumnya, senantiasa resah dan gelisah menghadapi berbagai macam problem kehidupan.  Apalagi kalau berbicara tentang keterlibatan dalam perjuangan Islam, sangatlah jauh.
 
Selama ini mereka merasa bahwa  bukan mereka orangnya yang berhak bicara tentang hal semacam itu. Setelah mereka sering mendapat pengarahan tentang bagaimana arti hidup yang sebenarnya dan sering digelitik untuk menyadari kedudukannya sebagai khalifah Allah dipermukaan bumi ini, barulah menyadari bahwa ternyata hidup ini tidak sesulit yang selalu dibayangkan. Mereka juga baru menyadari bahwa didalam diri mereka ada potensi raksasa yang dapat memecahkan berbagai problem. Kompetensi mereka tidak sekerdil yang mereka duga selama ini.

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner