| Tahan Banting & Mandiri |
|
|
|
| Kondisi pra Wahyu | |||
| Rabu, 14 Januari 2009 07:00 | |||
|
2. Tahan Banting Pengaruh keyatiman pada diri Rasulullah sedemkian besar, terlihat secara jelas saat Beliau melangkah berjuang meruntuhkan pilar-pilar jahiliyah demi tegaknya Kalimatullah. Hal itu sangat sulit dilakukan manusia, kecuali mereka yang sudah menyiapkan diri bermental dan berjiwa tahan banting, disamping adanya kesabaran dan ketabahan yang ekstra tinggi.
3. Mandiri Kegetiran hidup sebagai seorang yatim cukup membekas dalam kalbunya. Dia alami sejak usia sekolah (seperti yang kita kenal sekarang). Sepeninggal ibunya dia dipelihara kakeknya, Abdul Muthalib selama dua tahun. Berikutnya diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Ditangan pamannya dia tak sempat bermanja-manja. Kondisi pamannya tak memungkinkannya berbuat semacam itu. Abu Tahalib adalah salah seorang putra Abdul Muthalib yang paling miskin. Itulah sebabnya didalam asuhan pamannya itu dia harus kerja keras mencari nafkah dengan menggembala kambing milik penduduk Mekah dengan upah yang sangat minim. Nampak disana bahwa Allah SWT sengaja melepaskan Muhammad dari pendidikan Ayah Bundanya untuk melepaskan Beliau dari cengkraman jahiliyah. Sebab Muhammad dipersiapkan menjadi Rasul yang mutlak baginya bersih dari campur tangan pendidikan jahiliyah, termasuk terbebas dari pengaruh didikan orang tua. Karena walaupun bagaimana terpujinya akhlak kedua orag tuanya, mereka hidup di dalam jahiliyah. Keyatiman itu sempat membebaskan Muhammad dari ketergantungan kepada siapapun kecuali kepada Allah. Dari detik ke detik pertumbuhan pisik dan mentalnya berada di bawah pantauan Allah. Diapun selalu merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, mengiringi setiap dengus nafas dan gerak-geriknya.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 752 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







