Rabu, 08 Februari 2012   15. Rabi-ul-Awwal 1433
Keyatiman untuk Pendidikan PDF Cetak E-mail
Kondisi pra Wahyu
Ditulis oleh Admin   
Jumat, 16 Januari 2009 07:00
Ustadz Abdullah Said menjadikan momen keyatiman ini untuk mendidik santri-santrinya. Walaupun ini sulit dibuat kurikulumnya dan tidak mudah ditrapkan.   Tapi tujuannya adalah agar anak-anak santri dapat merasakan keyatiman itu dengan banyak konsentrasi di kampus memanfaatkan daya dan kemampuannya , tidak terlalau tergantung kepada orang tua. Caranya, jembatan penghubung dengan orang luar seperti surat-surat yang datang semua disensor oleh pembimbing.
 
Terutama suart-surat yang isinya dapat menggoncangkan santri; misalnya meminta pulang dengan berbagai alasan. Tapi kalau misalnya surat yang datangnya dari orang tua yang memanggil pulang karena sudah tua dan tidak mampu bekerja, biasanya santri yang bersangkutan ditanya bagaimana kondisi orang tuanya sebenarnya.
Kalau memang demikian keadaannya seperti yang diceritakan. Sang anak diperintahkan pulang, bukan untuk meninggalkan kampus, tapi untuk memboyong orang taunya ke Gunung Tembak dengan diberi biaya.
 
Surat-surat yang hendak dikikrim ke orang tua juga di baca untuk mengetahui kondisi kejiwaan sang anak. Kalau surat tersebut bernada nasihat; menjelaskan kepada orang tua tentang kehidupan ber-Hidayatullah yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan, surat itu akan diteruskan. Tapi kalau meminta biaya untuk dipakai pulang karena  tidak tahan, akan dihadapi khusus untuk menanyakan dimana letak masalahnya sehingga tidak tahan.

Izin untuk pulang kampung sangat diperketat. “Jadikanlah Gunung Tembak ini sebagai kampungmu yang kamu harus cintai”.  Demikian sering diungkapkan Ustadz Abdullah Said.

Kondisi kesehariannya selalu digembleng lewat ceramah-ceramah dan pengarahan untuk menghayati sedalam-dalamnya kekuasaan dan bukti-bukti kasih sayang Allah kepada dirinya. Apalagi dengan adanya keajaiban-keajaiban yang terjadi di lingkungan pembinaan, Kampus Gunung Tembak. Seperti dengan seringnya datang orang-orang membawa sumbangan dalam jumlah besar; yang tidak di duga-duga sebelumnya. Padahal pada hari itu memang sedang kehabisan persiapan untuk mengganjal perut. Sehingga semua santri diperintahkan berdo’a untuk mememinta kepada Allah SWT kiranya berkenan menurunkan bantuanNya. Tidak lama setelah berdo’a biasanya bantuan yang diharapkan betul-betul datang. Santri-santri seperti bermimpi. Peristiwa seperti itu sering sekali terjadi. Sehingga  santri-santri mendapat pelajaran bahwa bergantung kepada Allah dengan penuh harap bukan pekerjaan sia-sia. Tapi tentu dengan syarat harus didukung dengan kerja keras, melaksanakan dengan baik amanah yang dipikul.  

Pembinaan dengan metode pengkodisian keyatiman ini dirasakan cukup mendatangkan hasil. Kader-kader awal dapat menjadi kader handal karena hasil pembinaan seperti ini. Mereka memiliki jiwa mandiri, percaya diri dan ketergantungannya kepada Allah SWT sangat besar.

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner