Senin, 06 Februari 2012   13. Rabi-ul-Awwal 1433
Menggembala PDF Cetak E-mail
Kondisi pra Wahyu
Sabtu, 17 Januari 2009 07:00
Kalau dilihat dari status sosial penggembala kambing adalah sangat rendah kedudukannya di tengah-tengah masyarakat. Biasanya dilakukan oleh budak-budak. Ini sangat disadari oleh Muhammad.  Tapi kenapa memilih pekerjaan ini ? Bermula dari keinginan untuk mendapatkan sumber pendapatan dari hasil cucuran keringatnya sendiri. Karena pamannya, Abu Thalib yang memelihra dia sangat memprihatinkan kehidupannya. Anaknya banyak dan tidak ada sumber hidup yang memadai. Memang Abu Thalib adalah pamannya yang paling tidak mampu dari semua saudaranya.

Dalam keadaan cukup sadar akan kedudukan seorang penggembala kambing yang sangat rendah di mata masyarakat, dengan upah yang sangat rendah pula, dia tetap menjalani pekerjaan itu dengan penuh kesungguhan. Dia tidak mengerti apa hikmah dibalik pekerjaan itu.
Dikemudian hari barulah diketahui bahwa ternyata nabi-nabi yang diutus Allah umumnya menggembala kambing. Sehingga beliau pernah bersabda:
 
“Nabi-nabi yang diutus Allah itu menggembala kambing. Musa diutus dia menggembala kambing, Daud diutus dia menggembala kambing, aku diutus juga menggembala kambing, aku menggembala kambing milik keluargaku di Ajyad”.

Rupanya sangat besar manfaat menggembala kambing untuk latihan kesabaran dan ketabahan untuk pematangan mental sebagai calon pemimpin. Karena kambing termasuk binatang ternak yang sangat susah diatur. Namun Muhammad dicatat dalam sejarah sebagai seorang penggembala yang berhasil menekan kejengkelannya menghadapi kambing-kambingnya. Sering Muhammad mengejar kambingnya yang terpisah dari kelompoknya hingga kelelahan. Dan kalau sudah ditangkap kambingnya yang nakal itu lalu dipeluknya dan berkata, "Engkau lelah dan sayapun lelah".

Di Pondok Pesantren Hidayatullah oleh Ustadz Abdullah Said, mengambil hikmah kasus penggembalaan ini dari sisi pemanfaatan usia remaja. Kalau Nabi Muhammad SAW diusia remaja terjun menggeluti pekerjaan yang dianggap hina, tapi yang jelas pekerjaan itu produktif, maka santri-santri juga demikian halnya. Pada usia remaja yang biasanya digunakan untuk  melampiaskan nafsu dan berbagai keinginan yang cenderung tidak terkendali, diredam dengan menggeluti pekerjaan yang menurut pandangan anak-anak seusianya di luar kehidupan pesantren adalah pekerjaan hina.
 
Pekerjaan itu seperti mencangkul, membelah kayu bakar, membersihkan kolam yang airnya bercampur kotoran manusia, membantu tukang seperti buruh, dan lain-lain. Awalnya memang berat dirasakan oleh santri-santri yang umumnya pernah mengalami kehidupan manja dan bebas. Tapi lama kelamaan dengan gemblengan mental yang terus menerus dilakukan, dibarengi dengan pengarahan yang selalu memberi harapan kecerahan masa depannya sebagai calon pemimpin  akhirnya luluh juga. Mereka merasakan bahwa dengan meggeluti pekerjaan seperti itu dapat mengantarnya untuk mudah mendapatkan secercah petunjuk, karena kesombongan yang ada pada diri mereka pelan-pelan terkikis.

Apalagi setelah kader-kader awal telah berhasil di tugaskan di berbagai tempat dan memberi laporan di depan warga dan santri-santri tentang keberhasilannya melaksanakan tugas. Yang mana kesuksesan itu tidak dapat dipisahkan dengan gemblengan yang pernah dialami dan dirasakan di Gunung Tembak. Adalah merupakan motivasi tersendiri.

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner