| Bergua Hira' |
|
|
|
| Kondisi pra Wahyu | |
| Selasa, 20 Januari 2009 07:00 | |
|
Fase ini merupakan puncak kebingungan dan keresahan Muhammad mencari kebenaran. Dia menatap dan menghayati prilaku kaumnya semakin hari semakin tenggelam dan larut dalam kegelapan tanpa secercah cahayapun yang meneranginya. Muhammad kesana-kemari ibarat seorang musafir yang sedang didera dahaga. Dia tidak menemukan telaga yang bening yang dapat ditempati menceduk air untuk diminum dan menyirami tubuh sekedar menghilangkan kegersangan dan kekeringan yang tengah menyengal nafas kehidupannya.
Pencarian ini sudah berjalan cukup lama sejak masih remaja. Ketika menggembala kambing. Dikala menjaga ternaknya dia manggunakan kesempatan menatap angkasa dan mengedarkan pandangannya ke alam sekitar. Merekam kejadian dan suara-suara alam yang dia dengar. Berlanjut ketika dia terlibat dalam dunia dagang. Kemudian tibalah pada titik kulminasi pencarian bertahannuts di Gua Hira. Seperti ada dorongan gaib menuntunnya memasuki sebuah gua, Gua Hira. Bertahun-tahun Muhammad pergi dan pulang ke dan dari rumah Khadijah. Bukan mudah kalau melihat medan pendakian menuju Gua Hira. Penulis sudah pernah mengalami pendakian itu. Penulis tidak ingat berapa lamanya mendaki karena sering istirahat. Kalau mendaki secara normal dan terus menerus menurut orang yang pernah menghitungnya hanya memakan waktu 40 menit. Sampai di puncak gunung Hira harus turun lagi 20 meter untuk sampai ke Gua Hira, harus melewati dua batu besar yang hampir bersatu sehingga harus memiringkan badan untuk bisa masuk, betapa sulitnya. Khadijahlah yang pergi dan pulang membawakan bekal selama suaminya mendekam bertahannuts dalam gua sepi itu. Aplikasi bergua hira di Pondok Pesantren Hidayatullah adalah mengupayakan untuk santri-santri dapat bertahan dan konsentrasi di kampus untuk menyerap pelajaran-pelajaran yang diberikan dan giat melakukan ibadah. Itulah sebabnya izin keluar kampus diperketat. Dalam hal-hal yang dianggap tidak terlalu penting santri-santri dilarang meninggalkan kampus. Karena dengan mengizinkan santri-santri keluar seenaknya, menurut pengalaman untuk mengembalikan kondisi kejiwaannya memerlukan waktu panjang. Padahal apa yang telah mewarnai kehidupan santri dengan pelaksanaan ibadah yang teratur dan akhlak yang mulia adalah merupakan kekayaan yang sangat tinggi nilainya. Sangat disayangkan kalau hanya dengan izin beberapa hari kekayaan yang diperoleh selama bertahannuts di kampus bisa berkurang atau hilang samasekali. Memang tidak mudah anak-anak muda diikat dengan aturan seperti itu. Karena gejolak jiwa mudanya selalu menyeruak untuk bebas mengikuti kemauan hatinya. Apalagi dengan adanya pembatasan yang sangat ketat untuk dekat-dekat di tanah haram, yakni tempat santri-santri putri diasaramakan. Untunglah kampus Gunung Tembak ini sangat luas lebih dari 100 hektar dilengkapi dengan lapangan sepak bola dan danau untuk memancing dan berenang. Sehingga mereka dapat memilih mau bermain bola dan olah raga lainnya seperti takraw dan volly ball atau berenang dan memancing. Sehingga tidak terlalu menjurus perhatiannya ke asrma putri. Banyak yang tidak bisa bertahan tapi tidak sedikit juga yang mampu bersabar mengikuti secara normatif aturan-aturan yang telah digariskan. Apalagi Ustadz Abdullah Said selalu memberikan wejangan dan arahan tentang tujuan kita membuat aturan yang sangat membatasi kemauan peribadi. “Kita berharap dengan kemampuan bertahan ditempat ini, mengikuti aturan-aturan dan norma-norma dengan penuh kesabaran, insya Allah kelak anda dapat ditampilkan sebagai seorang pemimpin yang memang ditunggu-tunggu. Keluaran sekolah-sekolah tinggi; yang cerdas-cerdas dari luar negeri itu sudah banyak. Tapi karena pada umumnya hanya otak yang cerdas, tidak dekat dengan masyarakat, tidak menyelami kehidupan umat, sehingga gagal dalam kepemimpinannya. Kenapa kita berani mengatakan bahwa santri-santri disini siap pakai? Karena mereka mengerti sekali apa yang mereka akan kerja yang diperlukan masyarakat kalau sampai di tempat tugas. Mereka sudah terlatih di tempat ini”. Karena mayoritas penghuni kampus adalah anak-anak muda yang tengah dalam pertumbuhan; yang umumnya berlatar belakang kehidupan brutal; yang dalam pembicaraan khusus dikalangan pembimbing-pembimbing Ustadz Abdullah Said sering menyampaikan bahwa, sebenarnya keberadaan mereka sudah luar biasa dibandingkan kita dulu waktu masih seumur mereka. Maka hadits yang sering di sampaikan Ustadz Abdullah Said kepada santri-santrinya dalam upaya memberi motivasi untuk menjadi pemuda yang menjadi harapan semua orang adalah hadist tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan kelak di Padang Mahsyar. Hadits tersebut adalah "Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah maungannNya; yang tidak ada naungan kecuali hanya naunganNya, yaitu: Imam yang adil, pemuda yang taat beribadah kepada Allah, seorang yang terpaut hatinya pada mesjid, apabila ia keluar dari mesjid segera ia kembali kepadanya, dua orang yang saling mengasihi demi karena Allah, keduanya berkumpul demi karean Allah dan berpisah demi karena Allah pula, seorang yang berzikir kepada Allah menyendiri dan lalu kedua matanya mengalirkan air mata, seorang yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu berkata, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah Rabbul 'Alamin" dan seseorang yang mengeluarkan sedekahnya secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya" (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Ustadz Abdullah Said sangat pandai mengemas hadits ini dalam ceramahnya sehingga sangat menarik untuk disimak. Beliau menjelaskan tentang mungkinnya hal-hal yang disampaikan Nabi itu kita lakukan di tempat ini. Dan alangkah sulitnya untuk kita kerjakan di luar dari tempat seperti ini. Ayat yang agak sering juga dibahas dalam hubungannya dengan karakter yang harus dimiliki oleh seorang kader adalah S. Al-Maidah :54; Wahai orang-orang yang beriman ! Barang siapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka akan didatangkan oleh Allah satu kaum yang dicintaiNya, dan merekapun mencintaiNya. Yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang yang beriman. Yang bersikap keras tehadap orang-orang kafir, mereka berjihad pada jalan Allah dan tidak mereka takut kepada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada barangsiapa yang Dia kehendaki dan Allah adalah Maha Luas dan lagi Maha Tahu. Ustadz Abdullah Said menjelaskan bahwa inilah ciri-ciri kader yang akan merubah peta dunia; yang akan menggurat sejarah. Karena kalau Allah telah cinta kepadanya dan dia juga mencintai Allah, lemah lembut tehadap sesama Mu' min, keras, tidak kompromi menghadapi orang kafir,senantiasa siap berjihad di jalan Allah, tidak takut terhadap orang yang mencela. Kita akan menyaksikan sosok manusia yang senantiasa tegar menghadapi tantangan, tidak pernah pessimis menyongsong masa depan. Sehingga akan terlihat bekas-bekas tangannya senantiasa membawa kebaikan dan membuahkan kemaslahatan. Mereka akan senantiasa menjadi garda dari barisan yang terus bergerak menuju kemenangan Islam.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 553 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







