Senin, 06 Februari 2012   13. Rabi-ul-Awwal 1433
Heboh Wahyu Pertama PDF Cetak E-mail
Sejarah Manhaj SNW
Kamis, 22 Januari 2009 07:00
Baru lima ayat yang diterima dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tapi orang-orang yang tersentuh langsung berubah keyakinan, pola pikir dan cara memandangnya, seperti Khadijah binti Khuwailid, seorang yang kaya raya sudah habis-habisan berkorban. Tidak takut menanggung resiko berupa serangan dari orang-orang kafir Quraisy. Tidak  ada lagi yang lebih berharga baginya dibanding wahyu yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW itu. Wahyu itu dirasakan sebagai satu kekayaan yang tidak dapat dibandingkan dengan seluruh kekayaan yang dimilikinya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, laki-laki merdeka dan hartawan dan termasuk tokoh masyarakat menyambut wahyu yang diterima Nabi dengan tidak banyak fikir. Seperti yang pernah disampaikan oleh nabi dikemudian hari,: ”Saya tidak mengajak seseorang masuk Islam melainkan ada mundur majunya kecuali Abu Bakar”. Begitu tersentuh wahyu langsung lebur ke dalam perjuangan membela Islam. Suatu hari mengalami luka parah karena digebukin oleh orang-orang musyrikin karena diseru secara terang-terangan, mereka diajak masuk Islam dengan menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan berhala yang dipuja-puja itu.
 
Abu Bakar dalam lanjutan perjalanan hidupanya dalam berislam tidak sedikit mengeluarkan dana untuk membeli budak-budak yang sedang disiksa tuannya karena masuk Islam. Membebaskan manusia-manusia yang terpasung dalam perbudakan, seperti Bilal bin Rabah, budak Umayyah bin Khalaf. Hamamah, ibu Bilal bin Rabah, budak seorang Quraisy musyrik. Ummu Unais dan anak perempuannya, budak Aswad bin Abdi  Yaghuts.  Nahdiyah dan anak perempuannya, budak Walid bin Mughirah. Labibah, budak Umar bin Khattab. Zunairah, budak Abu Jahal.

Dikalangan kaum budak Said bin Haritsah termasuk beruntung karena tidak merasakan kehinaan sebagai budak karena berada ditengah-tengah keluarga Nabi, karena memang tidak diperlakukan sebagai budak. Oleh Nabi diangkatnya sebagai anak. Kalau bukan karena teguran Allah SWT lewat wahyu Said tetap akrab dengan panggilan Said bin Muhammad.

Bilal bin Rabah sejak turun wahyu pertama ini tidak lagi merasa diperbudak oleh sesamanya manusia. Karena muatan wahyu pertama ini merasukkan keyakinan dan pemahaman bahwa manusia berasal dari sumber yang sama. Ketika dipaggil oleh Tuannya, Umayyah bin Khalaf, Bilal yang biasanya membungkuk bahkan hampir merayap di tanah hanya berdiri tegak. Tuannya menjadi berang melihat tingkah lakunya yang aneh itu. Bilal sudah berani menatap biji mata Umayyah bin Khalaf.  Ini suatu sikap yang luar biasa kalau seorang budak sudah berani menatap biji mata tuannya. Itu yang membuat tuannya menjadi berang.  Bilal lalu diseret ke padang pasir, diikat, dijemur dan ditindis dengan batu besar.  Dengan harapan lewat siksaan itu Bilal, budak belian yang kulitnya hitam lebam itu akan dapat mengembalikan kebiasaannya sebagaimana semula.
 
Ternyata hanya meneriakkan ucapan, “Ahad.....! Ahad.....! Ahad.....!" Ini adalah ucapan yang lahir dari relung kalbunya yang paling dalam yang bermakna bahwa Tuhan yang patut disembah cuma satu, Tuhan yang patut disembah cuma satu, Tuhan yang patut disembah cuma satu. Tidak ada yang lain. Kamu bukan Tuhan. Itulah yang terjadi atas diri Bilal sampai datang Abu Bakar menemui Umayyah bin Khalaf yang merasa si pemilik dan penguasa penuh atas  diri Bilal bin Rabah.

Abu Bakar meminta kepada Umayyah bin Khalaf agar Bilal dimerdekakan. Berapa saya harus bayar untuk menebus saudaraku ini? Dijawab oleh Umayyah bin Khalaf dengan menyebut angka 10 dinar, kalau dirupiahkan sekarang dengan nilai Rp 200.000/gram, karena satu dinar sama dengan 4,25 gram = kurang lebih Rp 850.000,- berarti Rp 8.500.000, - Abu Bakar langsung menyetujui dan membayar kontan, karena memang sudah menyiapkan uang dinar di pundi-pundi. Umayyah nyeletuk, “Seandainya engkau menawarnya 5 dinar (Rp 4.250.000 ) sayapun akan memberikanmu, karena bagi saya budak hitam  itu tidak ada nilainya ”. Abu Bakar menjawab, “Sekiranya kamu memasang harga 100 dinar ( Rp 85.000.000.-) sayapun akan menebusnya, karena bagiku uang sekian itu tidak ada harganya dibandingkan dengan nilai saudaraku sesama Muslim seperti Bilal itu."

Sikap Abu Bakar ini menambah kebingungan Umayyah bin Khalaf. Kenapa Abu Bakar rela membayar mahal Bilal yang menurut dia tidak ada harganya. Dan yang lebih mengherankan kenapa Bilal setegar itu menerima siksaan dari dia. Berarti ajaran yang dibawa Muhammad itu betul-betul egaliter, merombak tradisi Arab yang menganut sistem perbudakan. Juga menterapkan sistem persaudaraan yang belum pernah ada yang melakukan sebelumnya. Buktinya budak seperti Bilal itu sangat dihargai. Abu Bakar yang bangsawan menyebutnya sebagai saudara. Umayyah bin  Khalaf adalah representasi dari tokoh–tokoh Jahiliyah  pada umumnya.

Contoh-contoh ini yang sering dikemukakan oleh Ustadz Abdullah Said untuk menggambarkan betapa hebatnya nilai yang ada dibalik wahyu pertama itu sampai Abu Bakar, seorang tokoh, hartawan dan cukup berotak dapat tertarik dan lebur dalam Islam dan mau berkorban harta dan menjadikan Bilal yang budak hitam itu sebagai saudaranya lebih dari saudara kandungnya.

Ali bin Abi Thalib, seorang anak remaja langsung menyatakan keyakinannya kepada nabi. Ketika disuruh minta izin kepada orang tuanya, dia menjawab bahwa, “Tuhan menciptakan aku tanpa berunding dengan ayahku, kenapa kalau mau menyembah Allah harus berunding dengan orang tua”.
Setiap saat Ustadz Abdullah Said memberi penjelasan tentang wahyu pertama ini. Berbagai kesempatan digunakan untuk berdiskusi, seminar, sarasehan, dan lain-lain yang topiknya tidak lain menggali kandungan wahyu pertama. Kemudian diteruskan kepada wahyu-wahyu berikutnya. Untuk santri-santri kalong  menggabung dengan pembimbing dan santri dewasa disediakan waktu dua kali sebulan pada malam Ahad untuk mengadakan diskusi. Sebelumnya, dianjurkan kepada peserta untuk terlebih dahulu membaca buku-buku tarikh dan referensi-referensi lain. Sehingga membuat diskusi menjadi hidup dan berbobot. Menurut Ustadz Abdullah Said, “Lewat ungkapan-ungkapan teman-teman yang disampaikan setelah bermujahadah membaca berbagai sumber selama dua pekan cukup membantu untuk menambah hazanah pengayaan makna dan nilai-nilai sistimatika wahyu khususnya wahyu pertama ”.

Hasil penggalian itu bukan sekedar menjadi perbendaharaan ilmu pengetahuan, tapi diupayakan dapat terwujud dalam realitas kehidupan. Terutama dikalangan warga dan santri-santri di Kampus Gunung Tembak yang diibaratkan sebagai pilot proyek.

Santri-santri dan warga secara bergantian disuruh tampil mengemukakan pemahaman dan tangkapannya tentang sistimatika wahyu. Lewat penjelasan-penjelasan yang lugu itu diketahui sudah sampai dimana pengetahuan dan tangkapan mereka. Dan dapat diketahui tingkat mujahadah yang mereka lakukan. Disamping itu diadakan kontrol secara terus menerus.

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner