| Berhijrah |
|
|
|
| Sejarah Manhaj SNW | |||
| Rabu, 28 Januari 2009 07:00 | |||
|
6. Hijrah Berbicara hijrah, Ustadz Abdullah Said sering mengemukakan bahwa hijrah kita yang paling utama adalah merubah pola pikir dan cara memandang kita dari yang negatif kepada yang positif. Kalau dulu kita asyik berjuang single fighter, asyik sendiri, sekarang kita sudah harus dirubah. Kita harus meleburkan diri dalam jama'ah. Tentu ini punya konsekuensi logis. Kita tidak boleh lagi hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga tapi harus mulai berfikir untuk kepentingan ummat. Hijrah secara teritorial Ustadz Abdullah Said sering mengemukakan bahwa kita patut bersyukur karena sudah ada tempat untuk menampung saudara-saudara kita yang mau berhijrah meninggalkan tempatnya mencari tempat yang dijamin dapat terjaga Islamnya dan dapat subur imannya. Terutama membangun rumah tangga yang mempunyai resistensi dari serangan kultur non Islam yang tengah gencar menyerang Islam lewat berbagai cara. Beliau sangat sering mempopulerkan istilah pola pikir Abad 14 Hijrah. Beliau katakan, "Sekarang sudah harus kita tinggalkan cara berfikir Abad ke-14 hijriyah yang suka marah-marah, ngamuk-ngamuk hanya karena persoalan sepele; hanya karena perbedaan pendapat. Yang tidak berfikir konsepsional; tidak kontekstual". Kita mencoba menyatukan visi dan cita-cita untuk mengangkat pekerjaan besar: Membangun peradaban Islami. Kalau tokh kita tidak dapat mencicipinya mudah-mudahan anak-anak kita atau cucu-cucu kita dapat menikmatinya. Yang jelas hijrah dalam arti perubahan pola pikir dan cara pandang yang tengah kita jalani sekarang ini, itu sudah merupakan pengguratan sejarah yang sangat besar artinya. Kita tengah memasang fundasi peradaban islami yang telah runtuh. Kita sedang mengumpul serpihan-serpihan perahu perjuangan yang akan dipakai berlayar. Kalau di abad ke-14 Hijriyah kita sibuk bertengkar tentang jahar dan sirr-nya basmalah di awal S.Al-Fatihah, bertengkar tentang qunut dan tidak qunut pada shalat Subuh, tentang jumlah raka'at shalat tarwih. Yang untung siapa ? Bukan yang menjaharkan atau yang mensirr-kan basmalah; bukan yang qunut atau yang tidak qunut di waktu Subuh; bukan yang delapan raka'at atau yang 20 raka'at tarwihnya, tapi yang untung adalah musuh-musuh Islam. Mereka memang sengaja memasang strategi untuk mencabik-cabik kita. Mereka berusaha membuat kotak-kotak yang kuat pintunya dan dipasangi gembok besar sehingga tidak mudah dibuka. Sehingga melihat Islam hanya seluas kotak yang kita tempati. Maka muncullah istilah Islam keras, Islam lembut, Islam moderat, dll Akibatnya selama abad ke-14 Hijriyah kerja kita hanya kelahi melulu. Tidak ada yang dapat dikerja yang mengarah kepada kemenangan Islam. Dalam pidato memasuki abad ke-15 Hijriyah yang diucapkan pada Hari Ahad 9 Nopember 1980 atau 1 Muharram 1401 H, Ustadz Abdullah Said mengatakan, "Tujuan utama kita berhijrah adalah untuk menyatukan shaf, memperkokoh barisan". Umat Islam setelah berhijrah dan bersatu padu akan mampu membangun kekuatan yang tangguh. Nabi membuktikan dalam Perang Badr, ummat Islam dapat memporak-porandakan orang kafir jahiliyah padahal jumlah personilnya cuma 300 orang. Sedang orang kafir Quraisy berjumlah 1000 orang dengan dana yang berlebihan, persenjataan yang lengkap dan personil-personil yang terlatih. Sebaliknya di Perang Hunain jumlah orang Islam bukan main banyaknya, lebih 12.000 personil. Kenapa dapat dikagetkan oleh orang kafir? Sehingga nyaris ummat Islam mengalami kekalahan ? Ini tidak lain disebabkan karena shaf umat Islam dalam Perang Badr rapat dan rapi, sedang di Perang Hunain mulai renggang karena dijangkiti penyakit sombong dengan jumlah yang banyak. Dalam hati mereka berkata, "Sedangkan di Perang Badr jumlah kita sedikit dapat membuat Kaum Kafir Quraisy tidak berdaya, apalagi dalam Perang ini jumlah kita cukup besar". Kewajiban kita yang tengah berpredikat anshor harus mempunyai kesiapan untuk didatangi para muhajirin. Kita harus sambut mereka dengan wajah yang berbunga-bunga. Kita harus sibuk mengurus kebutuhannya. Karena mereka adalah saudara kita yang akan menambah kekuatan. Kita tidak usahlah seperti Muhajirin di zaman Nabi yang rela menyerahkan salah seorang istrinya kepada muhajirin yang tidak membawa istri. Karena istri kita cuma satu. Bersedia menyerahkan salah satu rumahnya untuk ditempati. Karena kita cuma punya satu rumah, itupun milik pesantren. Cukup dengan menunjukkan keseriusan menyambut mereka. Yang ditugaskan membangun rumah, bangunlah rumah sebanyak mungkin. Kalau muhajirnya telah tiba bantulah mengurus peralatan dapur dan keperluan-keperluan lain yang diperlukan. Bantulah mencarikan pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Dan yang paling penting kita dapat menunjukkan keteladanan sebagai orang yang sudah lama ber-Hidayatullah. Nampakkan keakraban yang melebihi keluarga sedarah. Ukhuwwah Islamiyah yang kental; yang kaljasadil wahid. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bukan ringan sama dijinjing berat bawa sendiri. Karena pada ukhuwwah inilah letak kekuatan itu. Kita menjaga shalat berjama'ah dan aplikasikan nilai shalat berjama'ah itu dalam kehidupan keseharian kita. Jalinlah hubungan baik dengan Allah SWT dan harmonisasi hubungan dengan sesama saudara. Jama'ah yang sudah mulai terbangun harus selalu dijaga. Karena yang menyebabkan ummat Islam tidak mempunyai kekuatan adalah karena mereka memang melaksanakan shalat jama'ah tapi tidak berjamaah. Apalagi kalau shalat berjama'ah juga tidak. Dalam hubungannya dengan jaminan Allah SWT terhadap orang yang berhijrah, Ustadz Abdullah Said sangat sering mengintrodusir ayat yang ada didalam S. An-Nisa: 100: yang merupakan jaminan bagi orang yang berhijrah. "Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yana banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh tetap pahalnaya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Dalam kenyataannya memang demikian. Orang berhijrah tidak ada yang sengsara hidupnya. Walaupun tujuan utamanya berhijrah bukan untuk kekayaan duniawi. Tapi demikianlah janji Allah kepada orang yang berhijrah. Sejarah menceriterakan kepada kita bahwa sahabat-sahabat Nabi yang berhijrah dari Mekah ke Madinah tidak ada yang membawa apa-apa. Namun setelah sampai di Madinah, mulai merakit usaha sampai menjadi konglomerat yang dapat menyaingi kehebatan Yahudi seperti Abdurrahman bin 'Auf. Awalnya ditawari oleh sahabatnya memilih salah seorang istrinya untuk dinikahi karena tidak membawa istri, memilih rumahnya dan ingin memberi modal. Tapi Ibnu 'Auf menolak. Dia hanya meminta "Tunjuki saja saya jalan ke pasar". Karena ketekunannya mengelola bisnisnya akhirnya bisa menjadi kaya. Suatu hari pernah menyumbang untuk perjuangan sebanyak 30.000 dinar. Kalau di rupiahkan sekarang dengan standar harga emas Rp 200.000/gram, (1 dinar = 4,25 gram emas murni) berarti Rp 25.500.000.000.- ( Dua puluh lima seengah milyar rupiah). Pernah juga membagi-bagi uang kepada 100 orang veteran Badr yang masih hidup jumlahnya juga 30.000 dinar. Berarti setiap orang mendapat Rp 255.000.000. Kalau dizaman sekarang sama dengan membagi-bagikan mobil bagus yang baru satu mobil setiap orang. Pernah juga menyumbang 500 ekor kuda dan 1.000 ekor onta untuk kepentingan peperangan. Dan banyak lagi sumbangannya yang lain. Demikian pula sahabat-sahabat yang lain seperti Usman Ibnu Affan yang pernah membantu seluruh penduduk Madinah dimusim paceklik sebanyak 1.000 ekor onta lengkap dengan bebannya yang terdiri dari gandum, minyak samin, dll. Dan beberapa kali menyalurkan bantuan untuk kepentingan peperangan. Ini sebagai bukti bahwa berhijrah itu ada berkahnya. Kitapun disini sudah mulai merasakan kepemurahan Allah dengan rezeki dan status sosial yang kita dapatkan setelah berhijrah atau menggabung dengan Hidayatullah. Mungkin selama kita berda di kampung belum pernah merasakan naik pesawat udara enatah karena lapangan udara jauh dari rumah kita, entah karena tidak ada juga urusan yang mengharuskan menggunakan pesawat udara atau karena memang tidak ada uang. Tapi setelah tinggal di Pesantren Hidayatullah dan menjadi muballigh dengan mudah kita naik pesawat udara karena diundang berda'wah di Perusahaan minyak dan perusahaan-perusahaan lain. Yang paling sulit lagi naik helikopter. Di kampung biar banyak duit kita sulit naik helikopter karena pesawat jenis ini tidak ada untuk penumpamg umum, apalagi kalau memang tidak punya uang, tapi disini Alhamdulillah terkadang kalau tiba Hari Raya I'ed hanya sendirian muballigh Hidayatullah diangkut ke suatu tempat di anjungan pengeboran minyak lepas pantai untuk berkhutbah. Keenam azimat ini kalau dilaksanakan dengan baik – kata Ustadz Abdullah Said - segala persoalan kita akan diambil alih oleh Allah SWT sesuai firmanNya: "Biarkanlah, Aku akan menghadapi para pengingkar, pemilik kemewahan. Beri tangguhlah mereka sedikit (S.Al-Muzzammil:11). Dikatakan bahwa kalau musuh-musuh Islam semakin galak hendaknya shalat lail semakin diperbaiki, baca Al-Qur'an digencarkan, zikir ditingkatkan, tawakkal dimantapkan, shabar dipatrikan dalam jiwa, hijrah dijalani dengan baik, Insya Allah kita tidak usah pusing-pusing memikirkan musuh-musuh Islam. Allah SWT yang akan turun tangan. Telah dibuktikan dalam berbagai kasus. Lihatlah dalam perang Badar, Perang Khandak, dll. Kalau kita yang mau memikirkan bagaimana mengahdapi musuh, kita tidak mampu. Kendatipun bukan berarti kita tinggal diam. Kita tetap berupaya sekuat kemampuan untuk menyusun taktik perlawanan serta menyiapkan kader. Memang sejarah menceritakan bahwa tidak pernah kekuatan persenjataan fisik penegak kebenaran itu lebih banyak dari pada yang dimiliki oleh musuh-musuhnya. Namun diujung-ujung pertarungan terbukti bahwa kemenangan selalu diraih oleh orang-orang beriman. Ini karena sesuai janji Allah bahwa "Orang-orang kafir itu nanti saya yang hadapi".
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 627 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







