| Bermodal Kebesaran Jiwa |
|
|
|
| Kursus Muballigh Yang Tidak Pernah Berhenti | |
| Ditulis oleh Admin | |
| Senin, 09 Februari 2009 07:00 | |
|
A. Hasan Ibrahim mendapat tugas di Samarinda, ibukota Kalimantan Timur,. Petugas Hidayatullah ini diterima oleh Sulaiman Ismail, adik kandung Abd. Syukur Ismail. Obyek garapan adalah pegawai-pegawai Pemda dan mahasiswa-mahasiswa Unmul Samarinda, padahal ini miballigh yang belum banyak pengalaman.
Merupakan satu tantangan bagi Hasan Ibrahim didalam menyuguhkan materi karena yang dihadapi adalah orang-orang yang terpelajar. Nazir Hasan yang juga ditugaskan di Samarinda di tempatkan di Lempake. Didampingi oleh M. Shabar asal Madura dan Mathori dari Magelang yang ditugaskan pada 24 Oktober 1982 . Tidak lama menyusul Syamsu Rijal Aswien. Petugas-petugas ini mencoba melatih diri untuk membiasakan menyelami kehidupan masyarakat. Tiada hari tanpa ceramah, karena kalau tidak ada undangan mereka yang mencari obyek da'wah meskipun harus dengan jalan kaki. Di Sempaja, Samarinda di tugaskan dua muballigh muda, Sudirman Ambal dan Robiin, 24 Oktober 1982 untuk mendekati pemilik tanah, H.Abd. Rauf (HAR). Robiin akhirnya ditrarik 10 Januari 1983 sehubungan dengan penugasan ke Jakarta bersama Haris Amin dan Jumeri, untuk bertugas di Panti Asuhan milik H. Agus Sutomo. Untuk menggantikan Robiin ditugaskan M. Syahir Ambal mendampingi saudaranya, Sudirman Ambal 25 Januari 1983. Hanya 5 bulan setelah kedatangan kakaknya akhirnya Sudirman di tarik ke Balikpapan. Abdul Latief Usman di tempatkan di Lempake ini pada 28 Maret 1983. Dia hanya bertugas selama satu bulan lalau dipanggil kembali karena banyak pekerjaan di Balikpapan yang perlu ditangani. Tapi kendatipun waktunya singkat mamun sempat mendirikan sebuah yayasan yakni Yayasan Darul Falah bersama Darul Ihsan. Terbukti dengan cara seperti yang dinasihatkan sang guru itu sangat ampuh. Muballigh-muballigh yang ditugaskan yang ibarat sopir yang baru lepas dari kursus menyetir mobil itu ; yang belum hafal banyak rambu-rambu lalu lintas; belum menguasai betul secara praktis cara menggunakan peralatan yang ada didalam mobil, namun karena dengan penuh kehati-hatian dan percaya diri akhirnya eksis juga sebagai muballigh-muballigh yang disenangi. Dilain sisi mereka memang sangat aktif membuka pengajian. Ungkapan yang sering disampaikan Ustadz Abdullah Said, “Ibarat pemain sepak bola jangan hanya menunggu bola yang menggelinding, tapi jemputlah bola itu”. Inilah yang dilakukan petugas-petugas itu. Tidak pernah menolak tawaran ceramah dimanapun dan kapanpun diadakan. Tanpa terhalang hujan dan terik matahari. Kalau tidak ada undangan mereka yang datang mencari orang untuk diceramahi. Ini yang membuat orang simpati karena terpenuhi harapannya.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 465 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







