Rabu, 08 Februari 2012   15. Rabi-ul-Awwal 1433
Membangun Karang Bugis PDF Cetak E-mail
Cobaan Membawa Hikmah
Ditulis oleh Admin   
Kamis, 12 Februari 2009 07:00
Sekembali  dari Makassar mengurus perkaranya, oleh Kejaksaan di Makassar, lewat keterangan Bapak Kinu Marola, SH yang bertugas di Kejaksaan Tinggi Sulsel bahwa  perkara itu dianggap sudah kedaluwarsa. Kian menyeruaklah program-perogram pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah dalam benaknya, khususnya dari segi da’wah dan pengkaderan. Dia merencanakan membuat bangunan yang multi fungsi di Kaang Bugis.

Bertepatan dengan itu–ada beberapa buah bangunan bekas pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) se Kotamadya Balikpapan 1975 yang belum jelas pemanfaatannya.  Ustadz Abdullah Said memerintahkan stafnya agar segera mengajukan surat permohonan kepada  Walikotamadya Balikpapan. Ternyata berkat pendekatan dengan Walikotamadya yang cukup baik dengan penjelasan yang meyakinkan tentang pemanfaatannya maka  bangunan itu diserahkan.  

Abdul Madjid Aziz santri yang sebelum masuk Pesantren sudah berprofessi sebagai tukang ahli, ditugaskan untuk memenej kayu-kayu itu untuk mewujudkan sebuah bangunan seperti yang diinginkan Ustadz Abdullah Said. Amanah itu dilaksanakan dengan baik. “ Pak Majid Aziz memanfaatkan kayu itu secermat dan seefesien mungkin. Tidak sejengkal kayupun yang disia-siakan sampai terwujud suatu bangunan seperti yang diharapkan”, demikian sering dijelaskan Ustadz Abdullah Said kepada tamu-tamunya.  Inilah karya  pertama Abdul Madjid Aziz di Pesantren yang sangat besar artinya  yang akhirnya dikenal sebagai kakeknya tukang-tukang yang ada di Pesantren Hidayatullah. Bangunan yang terdiri dari dua lantai ini sangat berarti bagi perjalanan Pesantren Hidayatullah dalam menapaki kemajuan demi kemajuan yang diperolehnya.
 
Karena dengan tersedianya bangunan ini, banyak sekali program yang dapat diwujudkan seperti penampungan warga yang sudah berkeluarga ditempatkan di lantai bawah, pengajian malam Jum’at dan semua kegiatan yang berkait dengan da’wah dan pengakaderan ditempatkan di lantai atas. Bangunan ini sekaligus menjadi bukti untuk Walikota Asnawie Arbain yang tadinya ragu-ragu, bahwa orang-orang Hidyatullah memang layak dipercaya dan meyakinkan etos kerjanya.

Berjalanlah kegiatan di Karang Bugis dengan aktifitas yang cukup padat. Santri-santri semakin bertambah baik putra maupun putri. Tuntutan berbagai kegiatan  juga semakin meningkat. Santri-santri putri di Karang Bugis terdiri dari Rosmala Dewi (putri dari jama’ah, karyawan PU di Samboja) Elliya Noor (dari keluarga Minang di Balikpapan), Rohana (adik kandung Ustadz Hasyim Hs), Nurhayati Rowa ( putri dari jama’ah di Kampung Baru, Balikpapan),  Shofiyah Kamil ( putri Ustadz Kamil Pasya di Sindangjaya), Ruhayati, Kurniasih, Masitho, Iis Nurjannah (keempatnya juga dari Sindangjaya, Handil) Nursaidah (adik kandung Abdullah Umar, asal Pinrang), Rifyana/Rifyani ( yang digelar si kembar cantik dari Samboja – konon ada darah India-nya), Hafidah (ssaudara sepupu Darul Ihsan) dan Wartini Arief (adik kandung Darul Ihsan Arief dari Berau). 
 
Disamping itu 4 orang santri senior: Aida Chered, Hasanah Luqman, Marfu’ah dan Nursiah. Keempat putri senior inilah yang menajdi kakak asuh yang selalu memberi bimbingan kepada adik-adiknya. Seorang alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dra Munirah Djamal sempat juga beberapa bulan membimbing anak-anak putri di Karang Bugis. Pembimbing utamanya adalah Ustadz A.Hasan Ibrahim, Hasyim Hs, Usman Palese, Muh. Nazir Hasan. Santri putra (dewasa) terdiri dari Abdul Qadir Jailani, Hasan Suradji, Yusuf Suradji, Marzuki Latief, Rasyidin Noor, Muis Zubair.  Santri yang tergolong masih remaja: Mujahid Zubair, Sugeng (Abdul Ghafar), Abdul Hakim Ruma (dari Sinjai), Abdul Aziz Majid (putra Abd.Majid Aziz) Anwar Husain, Darul Ihsan, Asmaran,  Umar Hasan, Syamsurijal Aswien, Ramli Arif (adik kandung Darul Ihsan Arief),  Mahmud Wahab, Bahruddin Wahab (adik kandung Ustadz Usman Asy’ari). Mushlikh Ibrahim, Zakkiron Ibrahim, Ramadhan Ibrahim ( namanya akhirnya dirubah menjadi Faishal). Ketiganya adik kandung Ustadz A.Hasan Ibrahim dari Pekalongan.  Supriyono (adik kandung Ustadz Hasyim Hs dari Magelang). Ahmad Yani, Kolun, Ngalimun, Alimuddin (dari Petung). Anak-anak dari Sindangjaya adalah Maman Rahiman, Muhammad Jafar Siddiq (Mumu). Ditambah santri-santri yang tinggal di rumahnya di sekitar kampus Karang Bugis seperti Arifin, Idris, Mukhtar.

Masyarakat semakin mengenal pendidikan yang diadakan di Karang Bugis. Peserta kuliah malam Jum’at juga semakin meningkat. Termasuk karyawan-karyawan perusahaan yang beroperasi di Balikpapan. Seperti Projakal (proyek jalan Kalimantan), karyawan Pertamina, Union, Huffco

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner