| Membangun mesjid |
|
|
|
| Cobaan Membawa Hikmah | |||
| Minggu, 15 Februari 2009 07:00 | |||
|
Sejak pertama menginjakkan kaki di lokasi ini bangunan pertama yang ada di benak Ustadz Abdullah Said untuk segera dibuat adalah mesjid. Ini tentu merujuk kepada sejarah Nabi Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah, bahwa bangunan yang pertama-tama diupayakan adalah mesjid yang dikenal dengan mesjid Quba. Dan memang kalau dilihat dari segi pemanfaatannya mesjid dapat digunakan untuk berbagai kepentingan disamping untuk shalat.
Untuk itu santri-santri yang telah berazam untuk tinggal di tempat yang baru dimasuki ini Ustadz Abdullah Said mengajak bersama-sama memilih tempat yang tepat untuk mendirikan rumah Allah. Sebuah tempat yang dianggap tepat adalah tempat dimana mesjid sekarang berdiri. Jama’ah-jama’ah di kota juga mulai dihimbau untuk datang setiap hari Ahad kerja bakti membantu mengungkit tunggul yang banyak sekali dilokasi ini dan meratakan tanah yang akan ditempati mendirikan mesjid. Kedatangan jama’ah yang disebut santri kalong (Sebutan bagi santri yang hanya ikut belajar di waktu malam) ini sangat menyenangkan santri yang telah menetap karena biasanya santri-santri kalong itu membawa penambah gizi, menurut istilah santri. Santri-santri kalong yang selalu ikut kerja bakti hari Ahad di Gunung Tembak adalah Abdul Halim (guru yang telah mengikuti kegiatan sejak awal), H.Ridwan, Asyikin Selo, Talmi Tsani, Muhammad Hasyim, Muhammad Qobul, Baedawi, Bachrun Nahar, Ismail (Karang Bugis), Muh. Sanusi, Muhammad, Umar Hasan, Muhammad MB, Bakhtiar AR, Jazman, Syahrun, Sappe. Dari kelompok Gang Buntu (Jl.Sultan Hasanuddin) adalah: Abdul Karim Bonggo, Mustafa Katutu, Amrullah, Umar Guli, Muhaimin, Karim Abdul Kadir, Zainuddin, Jultan, Firman, Massa, H.Nasir, Sanneng, Nurdin S, Kanang, Lukman, Dadu, Ramli, Yani. Ada juga dari karyawan Projakal (Proyek Jalan Kalimantan) yang cukup aktif mengikuti pengajian malam Jum’at dan kerja bakti dengan menggunakan mobil perusahaan yang dipegangnya dan juga menjadi donatur tetap yakni Pak Dayat Maman, Pak Bejo, Pak Sadat. Disamping hari Ahad juga sekali-sekali pada hari Jum’at dan hari Selasa kalau tiba saatnya shalat lail bersama pada malamnya. Ini bagi yang tidak terikat kerja dinas. Orang-orang yang disebutkan ini adalah hasil binaan Ustadz Amin Bachrun yang sejak awal perlangkahan Pesantren Hidayatullah tidak pernah berhenti membina, terutama yang dikenal sebagai kelompok akar rumput. Setelah tanahnya rata yang sudah memungkinkan untuk membuat bangunan diatasnya dan bahan untuk membangun juga sudah siap, Ustadz Abdullah Said mengajak Abdul Majid Aziz yang waktu itu tinggal di Kampung Baru, Balikpapan yang berhasil meyakinkan Ustadz Abdullah Said lewat hasil kerjanya di Karang Bugis membangun gedung berlantai dua dari kayu untuk dapat beralih ke Gunung Tembak memimpin pembangunan mesjid kayu berukuran 20m x 10m. Abdul Majid Aziz memboyong keluarganya yang mampu bertukang yakni Pak Husen Badong dan Pak Dahlan yang juga pandai memotong rambut. Juga asistennya, Hasan Suradji, Yusuf Suradji, Darul Ihsan, Asmaran juga dilibatkan sebagai tukang pemula yang sudah dilibatkan bertukang sejak di Karang Bugis. Hanya sebulan lamanya pembangunan mesjid sudah dapat dirampungkan. Pembangunannya dimulai pada Hari Kamis, 10 Maret 1976 selesai pada bulan April 1976. Terasa sekali fungsi mesjid ini, terutama pada saat bangunan lain belum banyak karena disamping untuk ditempati shalat juga untuk tempat belajar, pertemuan dan tempat tidur. Mesjid ini berhasil diselesaiakan oleh tangan-tangan trampil ditopang oleh tenaga-tenaga yang sangat gesit dan lincah. Mesjid ini disebut santri Mesjid Gudang Garam karena bentuknya yang seperti gudang. Papan yang ditempati sujud terdiri dari kayu ulin yang tidak diketam licin. Karena Ustadz Abdullah Said sangat lama kalau sujud sehingga umumnya santri waktu itu cepat hitam jidatnya bahkan ada yang sampai terluka, karena tertidur dikala sujud. Warna hitam pada jidat ini dijadikan orang sebagai ciri khas orang Hidayatullah waktu itu. Sering disebut orang "atsarissujud", bekas sujud, pengaruh sujud. Padahal kebanyakan hanya pengaruh tempat sujud. Tapi bagaimanapun juga itu menandakan bahwa orang yang hitam jidatnya itu adalah karena banyak bersujud. Namun tidak dapat disangkal bahwa dari mesjid kayu yang berbentuk gudang dan masih sangat bersahaja inilah lahir kader-kader yang akhirnya menggemparkan seluruh Indonesia dengan gebrakan-gebrakannya yang menggurat sejarah. Sebuah mesjid besar direncanakan oleh Ustadz Abdullah Said untuk dibangun. Prosesnya dimulai pada bulan Maret 1982. Ukurannya 30m x 30m. Biayanya diperkirakan Rp 1.000.000.000. (1M), Pembongkaran mesjid yang yang disebut Mesjid Gudang Garam itu sangat bersejarah dilakukan pada Hari Rabu 10 Maret 1982. Setelah dibongkar barulah Pak Abdul Majid Aziz yang membangun mesjid itu menyadari bahwa ternyata waktu pemongkarannya bertepatan dengan waktu pembangunannya, 10 Maret 1976. Tidak disengaja tapi itulah yang terjadi. Pada waktu pembangunan mesjid besar ini dilakukan terpaksa tempat shalat dipindakan ke Aula ASA hingga mesjid selesai dibangun. Bangunan mesjid yang direncanakan 30m x 30m ternyata setelah fundsinya digali salah ukur berubah menjadi 38m x 40m, akhirnya itulah yang jadi. Mesjid ini mulai dikerja dengan kebesaran jiwa, karena biayanya besar sekali. 1 M waktu itu sangat besar. Namun Ustadz Abdullah Said tidak pernah kecil hati, sering mengemukakan bahwa, "Kita mulai saja bekerja membangun mesjid yang kita rencanakan itu. Soal biayanya kita tidak perlu khawatir, ini kan rumah Allah, tidak mungkin dibiarkan rumahnya terbengkalai pembangunannya. Dan kita yang bekerja dijanjikan gaji yang besar sekali yakni ajrun ghairu mamnun", tidak ada lagi upah yang lebih besar dari ini. Modal pertama pemggalian pondasi ini diberikan oleh Pak Samad Senong, menantu Pak H.Zainuddin Petta Puji, masih termasuk keluarga dekat Usrasz Abdullah Said sebanyak Rp 14.000.000. Perataan tanah sepenuhnya dilakukan oleh tangan manusia karena alat berat yang dijanjikan oleh Perusahaan H & H Utama International, batal. "Batalnya alat berat yang dijanjikan itu ada hikmahnya, sehinga seluruh warga dapat peluang untuk menanam jasa dalam pembangunan rumah Allah ini". Kata Ustadz Abdullah Said. Satu kejadian yang aneh dari sekian banyak kejadian sehubungan dengan pembangunan mesjid ini. Pada saat menjelang fihishing pembangunan mesjid ini, ada seorang pengusaha kayu di Km 25 yang akan mengeksport kayunya ke Jepang. Dia telah memotong-motong kayunya itu persis sesuai dengan psanan. Tiba-tiba transaksi itu dibatalkan dengan alasan ukurannya menyalahi ketentuan. Jengkelnya bukan main. Memang menurut keterangan orang yang berpengalaman, sering ada kejadian seperti itu. Maksudnya setelah pembatalan itu ada orang yang disuruh datang menawar dengan harga murah. Padahal yang disuruh itu adalah orangnya juga sipemesan tadi. Biasanya yang punya barang berfikir, daripada rugi banyak lebih baik rugi sedikit, akhirnya barangnya terpaksa dilego walaupun dengan harga yang jauh dibawah penawaran semula. Namun lain halnya dengan pengusaha yang satu ini. Dia lebih rela menyerahkan kayunya ke pesantren untuk dimanfaatkan di mesjid yang tengah dibangun daripada menyerahkan kepada penipu itu. Sangat sakit hatinya diperlakukan seperti itu. Akhirnya seluruh kebutuhan kusen mesjid dapat terpenuhi dari kayu bengkirai yang diserahkan itu. Bahkan seluruh kusen bangunan aula di Karang Bugis juga tepenuhi. Itupun masih ada lebihnya. Pada waktu hendak diatapi ada Pak Moch. Hasan Basri dari Pertamina yang ditunjuk menjadi Pimpro pembangunan kilang oleh Perusahaan Amerika,Bechtel. Seluruh keperluan atap mesjid diambilkan dari bekas bangunan darurat Perusahaan Bechtel yang terdiri dari seng yang sangat tebal yang tukang dapat berlari-lari diatasnya tanpa penyok sedikitpun. Dikala bahagian mihrab dan tiang-tiang besar ingin diperindah dengan keramik kecil datang Pak Edi Kartono, Meneger Logistik TOTAL INDONESIE menyumbang menanggung seluruhnya. Demikian pula halnya dermawan-dermawan yang lain tidak ketinggalan membantu. Ada yang membantu ratusan zak semen, kerikil dll. Cara Ustadz Abdullah Said meminta sumbangan, tidak langsung. Biasanya dikatakan kepada orang yang berduit bahwa, "Insya Allah mesjid akan selesai segera tapi sayang sekali kalau Bapak tidak punya saham didalamnya". Orang yang diajak ngomomg biasanyalangsung bertaya, apanya lagi, Ustadz yang perlu disumbang. Pada waktu pengecoran mesjid dilakukan, terasa sekali bahwa Tuhan mengirim awannya untuk melindungi hamba-hambanya yang kerja keras tanpa gaji dalam bantuk rupiah, tapi mengincer "ajrun ghairu mamnun". Juga diyakini bahwa ada malaikat yang membantu karena kalau dihitung jumlah manusia yang bekerja , dan banyaknya semen yang diaduk, menurut perhitungan tukang yang berpeangalaman tidaklah mungkin dapat selesai dalam waktu seperti yang digunakan itu. Tapi kenyataannya dapat selesai dengan kualitas bangunan yang dijamin. Ini bukan berlebih-lebihan tapi banyak saksi hidup yang dapat berbicara tentang kenyataan ini. Kata Ustadz Abdullah Said, "Terlalu kufur nikmat kalau kita tidak mensyukuri bantuan Allah itu ". Demikianlah pengaturan Tuhan yang terkadang tidak masuk dalam kalkulasi otak. Sebagaimana penyampaian Ustadz Abdullah Said bahwa tidak mungkin Tuhan membiarkan bangunan rumahnya terbengkalai. Banyak kemungkinan bisa tejadi, yang penting kita ikhlas dan sungguh-sungguh bekeraja. Bangunan yang telah berdiri menjelang peresmian barulah gedung ketrampilan di sebelah selatan mesjid dan perpustakaan di sebelah timur mesjid. Gedung ini diupayakan oleh Walikota Balikpapan, H. Asnawie Arbain dengan mengumpulkan pengusaha-pengusaha muslim di Balikpapan untuk dapat turut berpartisipasi membantu mewujudkan bangunan ini. Ini dilakukan saat menjelang peresmian. Karena belum ada bangunan selain mesjid. Ada bangunan rumah dari papan yang di tempati santri senior setelah meninggalkan bekas pembakaran batu bata, terletak di asrama putri sekarang, tapi sangat tidak layak pajang. Semua pengusaha mengaku siap membantu di depan Pak Wali. Pengakuan itu kalau dijumlah seluruhnya melebihi dana yang diperlukan. Hanya sayang karena tidak seorangpun pengusaha itu yang membuktikan janjinya. Sehingga kas dari Kantor Kotamadyalah yang dirogoh untuk mengatasinya. Bangunan ini sangat mendesak diwujudkan karena belum ada bangunan untuk ditempati barang-barang yang disumbangkan Menteri Agama sebelum berkunjung ke Kaltim menutup MTQ (musbaqah tilawatil Qur’an) tingkat nasional ke-9 di Samarinda dan meresmikan Pondok Pesantren Hidayatulah. Selama ini barang itu ditempatkan di Karang Bugis. Sumbangan-sumbangan itu berupa mesin jahit tiga buah, mesin obras 1 buah, mesin perajut 3 buah, tustel 1 buah dan mesin pencuci foto. Juga seperangkat alat drum band dan sebuah hand tracktor. Yang disebut terakhir langsung digunakan menggarap lahan.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 659 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







