| Peresmian Pesantren dan Hikmahnya |
|
|
|
| Cobaan Membawa Hikmah | |
| Senin, 16 Februari 2009 07:00 | |
|
Peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah diadakan di halaman mesjid pada Hari Kamis 5 Agustus 1976. Atas anjuran Walikota Asnawie Arbain, pada malam peresmian anak-anak Pramuka dari kota Balikpapan mengadakan perkemahan di kampus. Panitia peresmian diketuai oleh Skoda (Sekretaris Kotamadya) Balikpapan, Drs. Awang Faisjal Ishak, Bc.Hk. Walikotamadya Balikpapan, H.Asnawie Arbain tercantum dalam undangan sebagai turut mengundang.
Peresmian dilakukan oleh Prof. Dr. K.H. Mukti Ali, MA Menteri Agama RI didampingi oleh K.H.Abdullah Syafi’i (ketua Majlis Ulama Jakarta) dan putrinya Tuty Alawiyah. Gubernur Kaltim, H.A. Wahab Sjahranie dan beberapa tamu pendamping Gubernur ikut rombongan Menteri dari Samarinda melalui jalan Handil karena naik kapal dari Samarinda. Walikota Balikpapan dan beberapa pendamping juga hadir. Walaupun jumlah santri belum seberapa tapi simpatisan-simpatisan yang mengetahui adanya peresmian ini berdatangan dari berbagai penjuru, terutama dari daerah sekitar pondok. Dalam acara itu Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said menuturkan pidatonya yang cukup indah menggambarkan kondisi pondok dan cita-cita yang ingin digapai dihari-hari mendatang. Juga disampaikan oleh pimpinan pondok bahwa, “Kami dicap orang sebagai penghayal-pengkhayal agung tapi insya Allah kami akan ujudkan khayalan itu dalam kenyataan”. Dilanjutkan dengan wejangan Menteri Agama yang menyatakan bahwa pidato yang disampaikan pimpinan Pondok sangat memikat dan penuh pesona. Menteri agama menasihatkan agar harapan dan cita-cita seperti yang telah diungkapkan Pimpinan Pondok dapat diupayakan dengan kerja keras yang tak kenal lelah. Insya Allah, Allah akan menolong bagi orang yang bersungguh-sungguh menolong agamaNya. Acara peresmian dilanjutkan dengan penanaman pohon palem sebagai kenang-kenangan. Hikmah Peresmian Kehadiran Menteri Agama dan rombongan meresmikan pondok telah memberi energi baru bagi Ustadz Abdullah Said dan seluruh pengurus serta santri-santri untuk lebih semangat dalam melangkah menuju masa depan yang lebih cerah. Ini dibuktikan dengan kian meningkatnya kegiatan membenahi kampus. Lokasi yang pada waktu peresmian baru sekitar 1 ha yang terbuka kini semakin luas. Semak-semak dan pohon ilalang yang tadinya masih membelukar diatas tanah seluas 5,4 ha kini sudah kelihatan bersih. Hanya tunggul-tunggul kayu ulin, meranti dan kayu jenis lain bekas tebangan pemilik HPH (hak pengusahaan hutan) yang ratusan batang jumlahnya masih nampak mengganggu pemandangan dimana-mana. Ustadz Abdullah Said belum dapat langsung menetap di kampus tetapi sering sekali datang berkunjung bahkan sering ikut bermalam bersama santri-santri. Setiap kali datang selalu memberi pengarahan dan motivasi untuk dapat bekerja dengan penuh ketulusan dan membayangkan prospektif kerja ini. Dikatakan bahwa, "Ini adalah upaya menuntut ridha Allah dan untuk merintis jalan menuju kejayaan Islam". Kita tengah menggurat sejarah di tempat ini. Santri-santri yang sudah banyak diberi gemblengan dan telah mengalami tiga kali hijrah yakni dari Gunung Sari ke Karang Rejo kemudian dari Karang Rejo ke Karang Bugis dan dari Karang Bugis ke Gunung Tembak. Sering diungkapkan bahwa, “Kita dari atas gunung unung Sari) turun ke karang (Karang Rejo) dan meneruskan kekarang yang lain (Karang Bugis lalu naik kembali ke gunung (Gunung Tembak)”. Dan santri-santri kader ini memang telah banyak menyaksikan bukti-bukti dari prediksi yang sering diketengahkan Ustadz Abdullah Said, sehingga tidak sulit memahami apa yang disampaikan itu. Arahan-arahan untuk langkah-langkah kemajuan dapat mengalir dengan mulus masuk ke dalam relung kalbu santri-santri. Usai peresmian santri-santri terus membangun gubuk-gubuk. Bekas pembakaran batu bata telah ditinggalkan karena disamping atapnya sudah hancur juga ancaman ular dan kelabang selalu dirasakan. Tadinya direncanakan untuk direhab namun dianggap kurang tepat. Untuk mendirikan gubuk-gubuk ini, setiap orang santri diberi modal Rp 5.000,-. Uang itu untuk membeli paku dan kulit kayu. Tiang yang terdiri dari kayu bundar dicari sendiri. Demikian pula untuk atap, dibuat sendiri. Bahannya dari daun nipah yang dapat diperoleh dipinggir laut yang jaraknya 2 Km dari tempat itu sambil rekreasi, mandi-mandi dan memungut siput untuk lauk. Sekembalinya membawa daun nipah yang sudah terikat. Tidak lupa melirik daun-daun yang diperikirakan dapat dijadikan sayur seperti eceng gondok, batang keladi liar yang tumbuh di pinggir-pinggir parit. Untuk membuat atap ini daun ilalang juga termasuk bahan yang cukup bagus. Apalagi bahan ini sangat mudah diperoleh. Tinggal menyabit berapapun diperlukan. Akhirnya kepungan ilalang yang tadinya mendongkolkan perasaan karena sangat mengganggu kini menjelma menjadi sahabat yang cukup menolong. Ada dua buah bekas pembakaran batu bata milik Pak Darman diberi dinding dan diperbaiki atapnya sehingga dapat dihuni. Juga sebuah gubuk yang pernah ditempati Pak Darman direhab untuk kembali difungsikan. Maka berdirilah gubuk-gubuk yang dibangun dengan cepat yang bervariasi bentuknya. Tergantung kreasi santri-santri yang membuatnya. Berdirilah gubuk-gubuk yang dibuat oleh santri-santri senior seperti gubuk yang dibuat Abdul Qadir Jailani yang teletak di lokasi antara Asrama Putri dan Guest House I (sekarang). Karena modelnya cukup bagus akhirnya setelah santri putri berdatangan ke kampus ini dan belum punya tempat bertengger, gubuk ini diminta untuk ditempati. Abdul Qadir Jailani pindah menempati gubuk yang lain. Amin Mahmud dan Sudiono AR juga membuat gubuk. Sarbini Nasir bersama Soewardhany Soekarno tidak ketinggalan membuat gubuk dengan melibatkan santri-santri untuk membantu. Demikian pula halnya Hasan Suradji bersama saudaranya, Yusuf Suradji. Muis Zubair, Mujahid Zubair bersama ibu dan kakaknya, Nuraini Zubair (Ummi Eni), Nurhayati Zubair (Tati) menempati bekas gubuk Pak Darman di lokasi Guest House I sekarang. Pondok itu akhirnya dijadikan Dapur Umum yang dipimpin Ibu Atikah, istri Ustadz Amin Bachrum. Mujahid Zubair sekeluarga pindah ke tempat lain. Rumah tangga yang pertama berada di kampus ini adalah rumah tangga Pak Husain Badong (mertua Ustadz Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Hidayatullah sekarang). Usman Asy’ari dan Hasanah Luqman yang masuk lokasi Rabu, 21 April 1976 nebeng di rumah Amin Bachrun/Ibu Atikah (dapur umum), hanya seminggu setelah datang lahir anaknya yang pertama, Hari Kamis, 28 April 1976, seorang laki-laki yang diberi nama Mustaqim. Inilah anak yang pertama lahir di kampus. Lalu orang tua Usman Asy’ari, H.Abdul Wahab, membuatkan sebuah rumah mungil yang tempatnya sekarang diatas lokasi dekat kuburan Ustadz Abdullah Said dan Nenek Ica. Ustadz Abdullah Said juga telah beralih ke kampus ini dengan menempati salah satu dari gubuk-gubuk yang didirikan Pak Darman, yang tadinya ditempati keluarganya yang terletak di sebelah selatan mesjid (sekarang), dipinggir jalan raya. Gubuk itu sangat rendah atapnya sehingga kalau berdiri kepala menyentuh atap. Waktu itu Ibu Aida Chered sedang mengandung anaknya yang pertama. Sehingga menjelang kelahiran anak petama itu terpaksa harus diboyong kembali ke Balikpapan karena di tempat ini belum ada bidan beranak. Setelah anak pertama lahir Rabu 21 Juli 1976 di Balikpapan yang diberi nama Sa’idah, Ustadz Abdullah Said kembali lagi ke kampus menempati rumah yang pernah ditempati santri putra dekat mesjid. Dalam waktu yang relatif singkat Ustadz Abdullah Said beberapa kali pindah rumah. Karena kalau beliau melihat ada kepentingan yang lebih mendesak dan rumah yang ditempati dianggap sangat tepat untuk kepentingan itu, beliau tinggalkan lagi rumah itu. Demikianlah seterusnya sehingga tidak pernah ada tempat khusus yang dikenal dengan sebutan “Rumah Pak Kyai”. Santri-santri mulai berdatangan masuk ke dalam lokasi baru ini terutama anak-anak santri baik putra atapun putri yang selama ini nyantri di Karang Bugis. Santri-santri putra dari Karang Bugis ditempatkan di gubuk-gubuk yang ditempati santri senior atau diistilahkan Ustadz Abdullah Said dengan santri basis, santri Badar. Seterusnya diperintahkan untuk membuat gubuk-gubuk sendiri. Terutama setelah santri-santri senior telah berumah tangga. Abdul Qadir Jailani nikah dengan Nurhayati Rowa (santri putri awal) bersamaan dengan Sarbini Nasir nikah dengan Salmiyah (santri awal), Amin Mahmud nikah dengan Marfu’ah (santri senior). Gubuk-gubuk yang sangat bersahajapun berdiri dimana-mana diatas areal seluas 5,4 ha itu. Rupanya gaung dari peresmian yang dilakukan Mentri Agama dan dihadiri tokoh-tokoh dan pejabat Kaltim cukup besar kumandangnya. Abdul Syukur Ismail, anggota DPR Tk II Balikpapan yang juga salah seorang pengurus Pesantren Hidayatullah memasukkan dua orang anaknya untuk dibina, Hasbi dan Hasli. Padahal masih kelas III SD dan yang kecil (Hasli) bahkan belum masuk sekolah. Keduanya diasuh oleh Sarbini Nasir.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 609 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







