| Para Muhajirin tahun 1981 s/d 1990 |
|
|
|
| Kisah Muhajirin | |||
| Ditulis oleh Admin | |||
| Kamis, 26 Februari 2009 07:00 | |||
|
Tahun 1981,
Masuk Khairoji, Jamaluddin DM, Muhammad Thoha, Abdul Aziz, Abdul Kahar semua dari Berau. Baharuddin Alla bersama istri dan satu anak, Rahmawati. Setelah di Hidayatullah lahir anaknya: Siti Arifah, Qurrata A’yunin, Munawar Khalil. Wakiyo bersama istri, Suratmi. Anak-anaknya: Muhammad Solikhin, Arif Wahyuddin, Nurzakiyah, Muthmainnah, Rohayati. Setelah di Hidayatullah lahir S. Fadhillah dan Nasrah Azizah. Tahun 1982, Masuk Syafar Maspul, dari Enrekang. Jamaluddin dari Majene. Imam Thohari dan Syaiful Rajab dari Berau. 21 Juni 1982, Manshur Salbu, asal Limbung-Gowa, Sulsel. Akhir 1980 telah datang di Hidayatullah Balikpapan melaporkan keinginan untuk hijrah. Masuk dengan istri, Nurhayati Djamil (Hindong) dan 5 orang anak: Zulkifli, Mujahid, Mursyid, Muslimah, Muslim. Setelah di Hidayatullah lahir: Mursyidah, Mujahidah, Mujtahidah, Mushlihah, Mustafidah, Mutahajjidah, Musyawwir. Ketika Ustadz Amin Bachrun bertugas di Kabupaten Berau, beberapa anak dan kepala rumah tangga dihijrahkan ke Gunung Tembak. Syahrul Arief bersama istri, Asmah dan anak-anaknya: Khairul Arkam, Mushlihuddin, Ma’rifaturrahmi. Juga adiknya, Rosyidah Arief, Budi Darmawan Arief dan orang tuanya sendiri, Muhammad Arief dan Hamidah (populer di Pesantren dengan sebutan Nenek Midah). Hasbullah dengan istrinya, Aisyah (populer di Pesantren dengan sebutan Nenek Esyah) serta anak-anaknya: Eronsyah, Faridah Ariyani, Rita Sahara, Rudiansyah, Rabiatul Adawiyah. Masih dalam lingkungan keluarga ini, Ali Kalan M.Dahlan dan istrinya, Halifah Husin dengan anak-anaknya: Prihatin Rahmadani, Bambang Hermansyah, Edy Purnawan, Ida Khairani, Umar Dhani, Abdul Khalik. Ada anak kecilnya yang meninggal di kapal pada waktu dalam perjalanan hijrah ke Balikpapan. Keluarga lain dari Berau adalah keluarga Muhammad Thoha. Setelah setahun berada di Gunung Tembak menyusul ibunya, dan adik-adiknya: Ahmad Shodiqin, Solihin, Lis Sulistiawati, Rusdianto. Demikian juga Jamaluddin DM. Setelah setahun di Gunung Tembak diajak juga Ibunya, Halwiyah dan adik-adiknya: Syafruddin, Rofik, Nurlailah, Syarifah, Nashruddin, Jamilah untuk berhijrah. Hermansyah, dari Berau bersama istri, Muttu Rusdianah. Anak-anaknya: Syarifah Asmah, Fitri Habibah, Junaris, Ahmad Junaidi, Juliansyah, Nurmala, Ridwansyah, Nurlailah. Juga Abdul Latief Paliu bersama istri, Hatimah dan anak-anak: Mastiani, Abdurrasyid, Asmaul Husna, Fathurrahman. Keluarga Mandar juga banyak yang datang pada tahun ini, seperti Asdar Ambal, Sahra, Maryam, Nurmaidah, Abdurrahim, Silayuddin, Hasanuddin, Jamaluddin, Nasabiyah, Pada tahun ini datang juga di Gunung Tembak Slamet I dari Bontang. 21 April, 1983 Syamsurijal Palu Sarjana Muda Bahasa Arab IAIN Alauddin Makassar Fakultas Adab. Berasal dari Barru dan istrinya Hikmah Yahya sepupu sendiri berasal dari Saparua, Maluku masuk Hidayatullah dengan 1 orang anak: Ainul Haq. Setelah di Hidayatullah lahir Wardhatunnahdah (meninggal dunia), Zahratunnahdah, Muzhirul Haq, Ra’idatunnahdah, Najmatunnahdah, Mukrimul Haq, Na’ilatunnahdah, Muhaqqiqul Haq. Abdul Qadir Abdullah ketika bertugas di Tarakan memboyong beberapa orang Enrekang yang berdomisili di Karungan, Tarakan dengan menggunakan pesawat udara sehingga heboh waktu itu bahwa Abdul Qadir Abdullah charter pesawat dari Tarakan mengantar orang hijrah ke Gunung Tembak, Balikpapan pada Hari Sabtu 27 Agustus 1983 yakni: Abdul Qadir Abdullah sendiri dengan istri, Marina Harun dan anak, Muhammad Alim bersama istri, Hawasiah dan anak-anaknya: Hasmini Alim, Isnaniah Alim, Halidah Alim. Setelah di Hidayatullah lahir Muhammad Ali Imran Alim, Muslim Alim, Nur Muti’ah Alim, Nur Amaliatunnisa’ Alim, Muhammad Abdul Kholis Al-Ghifari Alim. Juga Udin dan istrinya, Dawang dan anak-anaknya: Nurhayati Manggo (anak Dawang dari suami pertama), Hijrah Manggo (anak Dawang dari suami pertama),Abdul Haris Manggo (anak Dawang dari suami pertama). Anak Udin bersama Dawang: Muhajir Udin, Husna Udin, Nuraeni Udin. Disamping itu yang ikut ke Gunung Tembak: Hamka, Hasbianah, Rainah, Ma’nawiyah, Duhan, Jasmani, Jahisah, Mardianah, M.Jufri dan M.Anas. Baharuddin Aga dari Majene bersama istri, Nasabiah dan anak-anaknya: Hasliah, Nasirah, Nasran, Dinul Haq. Setelah di Hidayatullah lahir Tazkiyah, Dzikrullah, Alimuddin, Hasiah. Bidu tinggal di Sepinggan asal Marowangin, Enrekang masuk 10 Desember 1983 bersama istri asal Jawa, Suryati dan anak-anaknya: Sugiyati, Abdul Qosim, Nashruddin, Abdullah. Setelah di Pesantren lahir Luthfiyah Rahmah .Anak-anak yang masuk tahun ini, Suhardi dari Jombang, Noor Mawardhi dari Berau. Slamet II dari Bontang. Tahun 1984 Muhammad Yahya B dan istri Rohana serta anak-anak : Muhmaad Khozim, Kholish, Mar'atusholihah, Fuad Rizkillah, M. Adib Mukhtar, Mar'ah Nurul Qana'ah, M.Zahrul Fikri, M.Nabik Rasyid. Sejak 1974 tinggal di Kampus Karang Bugis. Kemudian pindah ke Gunung Tembak. Ustadz Ahmad Fitri, tamatan Gontor Ponorogo yang sempat mengajar di Pondok itu selma 7 tahun, asal Tolitoli masuk tinggal di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak setelah berkenalan dengan Ustadz Muhammad Hasyim Hs yang juga tamatan Gontor dan Ustadz Abdul Qadir Jailani ketika ditugaskan untuk menjajaki kemungkinan eksisnya cabang Hidayatullah di Tolitoli. Masuk bersama istri, Sitti Rahmah dan anak-anaknya: Zakiyah Fitrah, Dzul Amal, Uswatun Hasanah. Setelah di Hidayatullah lahir Muhammad Abdusyakur Hidayatullah. Umar Guli, asal Sinjai yang tinggal di Gang Buntu Balikpapan, kerja di pelabuhan, termasuk jama'ah aktif di kota. Masuk bersama istrinya, Hasnah dan anak-anaknya: Idah Ramlah, Abu Bakar. Setelah di Hidayatullah lahir: Abdussalam, Sibghatullah, Ratna Bulqis. Mustafa Katutu dengan istrinya, Rusmiyati. Anak-anaknya: Firmansyah, Syamsi, Nuraeni, Wahidah. Sugiono, asal Nganjuk yang tinggal di Prapatan Balikpapan, binaan Pak Abdul Mannan El-Kindy masuk Hidayatullah bersama istrinya, Ernawaty dan 2 orang anaknya, Khairil Huda dan Khairil Anam. Setelah di Hidayatullah lahir anaknya: Ira (meninggal jatuh di sumur), Muthmainnah, Dziuddin, Miftah Fauzi. Salman Jono dan istrinya, Winarsih serta anak-anaknya: Nunung Sutiani, Nanang Supriyadi, Annisatummuamanah. Setelah berada di Hidayatullah lahir: Nur Hidayah, Muti’ah Najasati. Misran dan istrinya, Wari tanpa anak setelah di Hidayatullah mengadopsi anak: Mukhlisah. Anak-anak bujang yang hijrah ke Hidayatullah tahun ini adalah Jamaluddin Ibrahim, asal Donggala. Seorang putra Bone, Sulthon. Selain itu yang hijrah pada tahun ini M.Natsir, M.Rusman, keduanya dari Majene. Sulaiman MN putra Pinrang yang tinggal di Bontang. Tahun 1985, Husain Kallado dari Marowangin, Enrekang bersama istri, Ni’mah asal Sinjai, dan satu orang anak, Hasan Al-Banna. Setelah masuk Hidayatullah lahir: Nurfauziah, Nisaul Munirah, Ahmad Fauzan, Muhammad Nadhil, Mahdhiyyah, Ahmad Muqaffi, Abdul Fatah, Abdullah Azzam. M.Hamzah B dari Enrekang bersama istri, Risma. Anak-anaknya Abdurrahman dan Abu Zar. Setelah masuk Hidayatullah lahir: Fatimah, Fitriani & Fitriana (kembar), Nurjannah, Firdaus, Ahmad Shaleh, Sahratul Jannah, Abdurrahim. Ahmad Shaleh, binaan Abdul Mannan El-Kindy di Prapatan Balikpapan. Masuk Hidayatullah bersama istri,Sumarmi. Anak-anaknya: Abdussomad, Siti Aminah, Abdullah Muttaqin, Nashrullah. Setelah masuk kampus Pondok Pesantren Hidayatullah lahir: Nurhasanah Husnul Khotimah, Aulia Rahman. Mustafa Najib Alatas dengan istrinya, Salasiah, anak-anaknya semua lahir di Hidayatullah:, Lukamanul Hakim, Ubaidillah, Miftahul Fauzan, Imaduddin, Muhammad An-Naqib, Salwa. Bujangan-bujangan yang masuk pada tahun ini adalah: M.Yasin GH, Suryadi Rasyid, Hamudi CM, Yaseng, Salmiyati, semuanya dari Majene. Mustafa Sakka dari Petung, Balikpapan Seberang. Mujiburrahman dari Tanjung Jumelei Balikpapan Seberang, Solihin S dari Malang, Darwis dari Berau. Muhammadong dari Gowa Sulsel. Tahun 1986, Tahun ini tercatat datang ke Gunung Tembak Ahmad Hasan Salim dan Khairul Amri dari Gresik. Zulfikar Sulaiman, Zulkhair Sulaiman, dua bersaudara dari Berau, Ismail Mappiasse dari Tolitoli, Muhammad Rasyid Ridha juga dari Berau. Dari Mandar masuk, Syamsuddin, Muhammad Thalib, Munir, Usman. Supardi, Ilham Polmas, Ilham Majene, Sumardin Aco, Tahun 1987 Masuk Mustafa Thahir, asal Camba, Maros Sulawesi Selatan, Jamaluddin HD dari Jeneponto, Zahir dan Hasman dari Majene, Muhammad dari Samarinda, Suwardhi dari Balikpapan, Mu’adi Marzuki dari Bojonegoro, Sofyan Yusuf dari Magelang, Ahmad MS dari Pare-Pare, Rahmat Basuki dari Purwokerto, Lukman Ahmad kelahiran Pare-Pare yang tinggal di Aji Raden, Balikpapan Timur. Purwanto asal Malang, Muhammad Sahid dari Bontonompo-Gowa. Dari keluarga Mandar datang Muhammad Yahya, Wasthiyah, Muhammad, Halida Sodik, Yusran, Kalang, Basri, Safyani, Hasran, Mujahidin, Firman, Sohiman, Iqbal, Taufiq. Tahun 1988 Abdul Karim Bonggo asal Jeneponto, masuk kampus Gunung Tembak bersama istrinya, Armilah DK asal Balikpapan dan anak-anaknya: Abdul Malik, Amil Amri El-Quddus, Miftah Salam, Asmaul Husna, Setelah berada di Kampus Gunung Tembak lahir: Nadhilah, Muhammad Syayyifan, Maisaroh, Syahidah. Abd Karim Bonggo sejak awal kegiatan Hidayatullah di kota sudah terlibat ikut pengajian Malam Jum’at kemudian ikut santri Kalong. Sebelum ke Gunung Tembak termasuk Pengurus Hidayatullah Cabang Balikpapan. Hamzah Akbar asal Sinjai, Muhammad Tang dari Tanjung Jumelei asal Bone, Sulawesi Selatan, Zul Azmi dari Berau. Arif Kamsa dari Bulukumba yang menetap di Sidodadi Balikpapan, masuk bersama istri, Norma dan anak-anaknya: Danial Ashori, Zainul Haq. Setelah masuk Gunung Tembak lahir: Muammar Mukhlis, Taufiqurrahman, Faikatul Azimah, Waizul Umam. Sebelumnya ikut santri Kalong di kota. Syahruddin dari Bone, Jamiruddin dari Tanjung Jumelei, Balikpapan Seberang, Tarmidzi Majid (Karyawan Pertamina), masuk dengan istrinya, Mardhianah dan anak-anaknya: Annisa Khusnul Khotimah, Maryam Jamilah, Nurul Hikmah, Naomi Salsabila. Tahun ini juga Syahril Somporang dari Tolitoli datang, Syafaruddin dari Enrekang/Pinrang, Jamaluddin Rahman dari Kalsel, Abdullah dari Tanah Toraja (Tator) Abdul Aziz Ahmad dari Tolitoli, Ali Akbar dari Sinjai, Akib Junaid dari Sinjai, Khalis Mukhlis dari Majene, Kasno dan Tulipno dari Purbalingga, Nanang Hanani dari Surabaya. 13 November 1988 Anshar Amiruddin datang dari Makassar bersama istri, Rahmawati Rasmin dan 2 orang anaknya, Sumayyah Nurul Syahidah dan Abdul Qahhar. Setelah di Gunung Tembak lahir Khairatun Hisan, Mujiul Haq, Khumairah Muthmainnah, Kholil Rahman. Bersamaan datangnya itu datang juga dari Makassar Muhsin dan istri, Ratnwati dan seorang anaknya, Nasibah. Husain Celli, asal Maros dan istri, anak-anaknya: Celli A.Said, Celli A. Rahman, Celli A. Razzaq. Celli A. A’la, Celli A. Nurul Falakh. Bagiyo dari Nganjuk. Sebelum bergabung dengan Hidayatullah mendapat pembinaan dari orang-orang Hidayatullah di ITCI Kenangan (Perusahaan Kayu milik Angkatan Darat). Muhammad Bakrie B. dari Enrekang juga masuk pada tahun ini. Akram Karim dari Makassar. Dari keluarga Mandar datang Ahmadi, Syamsurijal, Muhammad Rusli, Hamdani, Kholik, Abdurrahman, Wahyuddin, Ibrahim. Tahun 1989 Agus Taris, asal Buton masuk tepat 1 Januari. Tepat pada hari itu juga masuk Ibu Rusydah, dari Berau, istri Alm. K.H.Sulaiman Rais, ibu dari Zul Azmi, Rasyikah, Helwana, Zul Fikar, Zul Artsi. Kamis 2 Februari 1989, masuk Umar Muhiddin dari Balikpapan Seberang dengan istrinya, Syamsiah asal Banjar kelahiran Sesumpu. Tiga orang anak,Salmah, Abdurrahim, Nuraini. Setelah di Hidayatullah lahir Ahmad Soleh, Siti Muhajirah, Nursa’diyah, Miftahussolehah, Amirullah, Abdullah. Muhammad Syukur dari Berau. Abdul Kadir Jailani dari Banyumas, Sofyan Budhi Wardoyo dari Kudus. Iskandar Pabottingi asal Bone. Sebelumnya aktif pada Takhassus Hidayatullah kota kemudian ditugaskan di Muara Pentuan pada 1986. Suwari dari Blitar, karyawan Perusahaan Asing UNOCAL masuk bersama istri, Sunarti dan anak-anaknya: Eko Sulaksono, Wahyudi Sudarsono, Arif Rahman Hakim, Umi Thoharini. Rustam dari Tanujung Jumelei, Suparno dari Prapatan, Balikpapan. Tahun ini juga masuk Muhammad Basyir Sahabuddin, asal Makassar, Enang Zainuddin dari Subang, Abdul Salam Syam asal Bontonompo Gowa Sulawesi Selatan, Anwar Timumun dari Buol-Tolitoli, Muhammad Affan Ghafar dari Tolitoli, Muhammad Asdar dari Bulukumba Sulsel, M.Idris asal Bantaeng Sulsel. Bakri Bonggo dari Jeneponto yang sebelum ke Hidayatullah mengikuti jejak kakaknya Abdul Karim Bonggo tinggal di Samboja. Masuk bersama istrinya, Ratna dan anaknya Kholidaturrahmah. Setelah tinggal di Hidayatullah Gunung Tembak lahir: Muhammad Wazir Hidayat, Aisyah Rof’ah, Muhammad Ulul Ilmi, Ummu Hani, Ulfah Roihanah, Rifkah Mujahidah. Abdul Halim, asal Bone Sulawesi Selatan dan istri, Chotidjah yang sejak awal Hidayatullah telah menggabung dan akhirnya menjadi pembina di kota. Sebelum tinggal di Kampus Gunung Tembak berdomisili di Kompleks Hidayatullah Karang Bugis, aktif sejak awal bedirinya Pondok Pesantren Hidayatullah, masuk bersama anak-anaknya: Amaluddin, Husnaini, Rahmah El-Halimiyah, Ansharullah, Ainun Jariyah, Nur Fauziah, Nisa Amaliah, Khairul Amir, Muhammad Fadhlan/ Fadhli (kembar). Iskandar, asal Semoi kelahiran Banjar Anyar Jatim menggabung bersama istrinya, Darmi dan anak-anknya Khairun (santri awal Gunung Tembak), Abdul Munip, Abdul Muis, Amiruddin. Subani dari Blitar mengikuti kakaknya, Suwari masuk 4 bulan setelah sang kakak berada di Kampus Gunung Tembak. Pada tahun ini datang juga dari Banyuwangi, Jawa Timur, Syaiful Santoso. Kemudian Sunardi dari Bantul dan Kadi dari Ngawi masing-masing karyawan Perusahaan kayu International Timber Corporation Indonesia (ITCI), Kenangan, juga hijrah ke Hidayatullah. Muhammad Hery Subiyanto dari Tulungagung menggabung di Hidayatullah pada 28 November 1989. Jamain Rajja dari Tanjung Jumelei. Dari keluarga Mandar masuk Ilhamiyah, Johan, Irwan Syam, Salahuddin, Masdar, Aliawati, Zainab, Mahani, Muhammad Ja’far. Tahun 1990 Pada tahun ini cukup banyak yang masuk, baik kepala rumah tangga ataupun santri-santri. Ali Hermawan, Syamsul Arif asal Jombang, Muhammad Jufri asal Bulukumba. Nuryahya Asa dari Cilacap, setelah mampir di Hidayatullah Cabang Manado di Kinilow – Tomohon. Burhanuddin Haseng bersama istri Nuraini Rauf dan 3 orang anak: Muhammad Yusuf Burhan, Aminah Burhan, Abdul Jabbar Burhan. Tukul Sugiyatno bersama istri, Sumarni dan anak-anaknya: Eka Siswi Puspita Ningrum. Setelah di Hidayatullah lahir Miftahul Huda. Pada tahun ini masuk juga Anshar Sanusi dari Limbung Gowa, Nashruddin dari Berau, Adnan Idris dari Bima,NTT, Ari Triyanto dari Grobogan, Abdul Qadir dari Tolitoli, Eko Adil P, dari Semarang, Toha Yusuf dari Ciamis Jawa Barat, Amir Muda dari Enrekang, Sudarmono dari Enrekang. Bakhtiar S, Muharram, Muhammad Sahid Tasura, ketiganya dari Luwu. AR Umar Karim, dari Jeneponto, dan istrinya, Kulsum, anak-anaknya: Sahriyanti, Abdul Musyawwir. Masuk juga Ahmad Suradi dari Tuban, Bahari dari Sambas,asal Madura. Endi Haryono dari Magelang. Pada tahun ini masuk juga Ahmad Nurdin dari Bulukumba, Qohiruddin Kasim dari Masamba bersama istri, Surnawati asal Makassar. Ahmad Hasan dari Bone, Syaiful Bakhri dari Bulukumba, Nuryahya dari Cilacap, Suhendri dari Pakanbaru, Fakhruddin dari Gorontalo. Husain Jamali, Syarifuddin, Khairuddin, ketiganya dari Pulau Gebe , Maluku. Masuk pula keluarga dari Bulukumba, Alimuddin dan istri, Aisyah dan anak-anaknya: Anshar, Arsyad, Asmaniar. Kemudian datang keluarga Flores, Khairul Maqsus (besar di Jakarta), Sadri Latief, Mansyur Hasan, Burhanuddin Sulaiman, Suharman, Ahmad Bukhari Muslim, Iskandar Dato. Junaidi dari Aceh, Mustafa HG dari Jeneponto, Rahmat Usman dari Tolitoli, Supriyanto dari Nunukan, Hambali dari Galesong-Takalar, Mukmin S dari Sulsel, Sirajuddin HM dari Jeneponto, Amiruddin Husen dari Palopo, Saharuddin dari Gowa. Sujaib Saud dari Marowangin, Enrekang, Hani Akbar dari Makassar. Heri Mulyono dari Gresik bersama istri Sulfia G dari Manado. Abu Bakar dari Bulukumba, Anhar Faruk dari Pulau Gebe, Maluku, Arief Sufia dari Bandung. Syu’aib karyawan ITCI Kenangan dari Nganjuk datang bersama istri, Sakinah Kune dari Manado. Nurkarim Enta asal Bantaeng, karyawan Pertamina yang lama tinggal di Long Ikis, Kabupaten Pasir-Kaltim, masuk bersama istri, Hadisah Nuryana dan anak-anaknya: Iqbal, Darul Arqam, Al-Ghazali, Thoriqunnur, Al-Farabi, Masyithoh. Pendukung Pondok Pesantren Hidayatullah sejak awal berdirinya. Masuk dari keluarga Mandar, Kusno.
Tanda sebagai kegemaran
Bookmark
eMail ini
Hits: 1724 Komentar (0)
![]() Tulis komentar.
|







