Senin, 06 Februari 2012   13. Rabi-ul-Awwal 1433
Memperkuat Persaudaraan PDF Cetak E-mail
Mesin Pembangunan
Rabu, 04 Maret 2009 07:00
Satu hal yang sangat dijaga oleh Ustadz Abdullah Said adalah terpeliharanya keutuhan persaudaraan dan ukhuwwah islamiyyah. Kalau Pondok Pesantren Hidayatulah ini memiliki pondasi yang kuat sejak awal  adalah karena Ustadz Abdullah Said telah membangun persaudaraan dan keakraban dengan sahabat-sahabatnya. Dan itu sangat  dalam kesannya dikalangan sahabat-sahabatnya. Memang sering ada teguran-teguran yang agak menyakitkan perasaan  tapi justru  membuat pershabatan semakin dalam. Mungkin karena yang melatarbelakangi cubitan-cubitan itu adalah rasa cinta.  Rasa cinta ini terasa sekali dalam kehidupan sehari-sehari didalam berpesantren.
Tidur bersama, makan bersama, bercanda kepada santri-santrinya yang walaupun kedudukan Beliau sebagai pimpinan dan guru tapi tidak membuat jarak yang jauh dengan santrinya. Santri-sntrinya yang sekaligus sebagi teman dan sahabat juga tidak merasakan adanya jarak itu. Namun tidak berarti bahwa kedekatan itu mengurangi wibawanya. Wibawa dan kharisma itu terbangun dengan sendirinya, tidak terkesan dibuat-buat.

Beliau selalu mengingatkan kalau ada muncul didalam hati perasaan benci kepada saudaranya, segeralah sadari bahwa kita datang ke tempat ini bersusah-susah, berpahit-pahit adalah dengan tujuan yang sangat suci: untuk menggurat sejarah. Kita ingin menciptakan masyarakat dan lingkungan islami yang belum ada sekarang dan sangat dirindukan oleh orang Islam dan manusia pada umumnya.

Pernah pada Hari Ahad 21 Maret 1982 , Ustadz Abdullah Said mengumpulkan pengurus-pengurus Pondok, staf dan pembimbing yang terdiri dari: A.Hasan Ibrahim, Amin Bachrun, Soewardhany Soekarno, Abdul Mannan El-Kindy,  Hasan Noor, Manandring AG, Abdul Latief Usman, Usman Palese, Sarbini Nasir, Solekhan, Anwar Husain, Abdul Qadir Abdullah, Muhammad Yahya, Manshur Salbu, Abdul Madjid Aziz, Hasan Suradji, Muhammad Yusuf Suradji, Abdul Halim, H.Talmi Tsani, Mujahid Zubair, Abdul Rahman Mahmud, Waqiyo, Sudiono AR,  Puang Baking, Amir Abdullah. Muhammad Hasyim HS (belum kembali dari Muntilan-Magelang), Abdul Qadir Jailani (masih bertugas di Berau), Abdurrahman Muhammad (masih bertugas di Berbas). Beberapa orang pengurus Dewan Santri yakni Jazman , Muhammad Darif, Sudirman Ambal, Jamaluddin Sinjai, Robiin juga dihadirkan dalam pertemua ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung di hutan Gunung Binjai ini ditekankan dengan sangat keras betapa urgennya menjaga ukhuwwah sebagai sesuatu yang sangat berharga. Pertemuan ini dibuat sedemikian rupa mencekamnya sehingga terasa sekali bahwa “ukhuwwah” memang perlu mendapat perhatian serius.

Untuk lebih mengkonkretkan persaudaran itu, pada Selasa 6 April 1982 beliau mengumumkan dipersaudarakannya beberapa orang  senior Pesantren ini yakni:
1.    Ustadz Usman Palese dengan Soewardhany Soekarno
2.    Ustadz Hasan Ibrahim  dengan  Ustadz Abdul Madjid Aziz
3.    Ustadz Hasan Suradji dengan  Ustadz Manandring Abdul Ghani
4.    Ustadz Abdullah Said sendiri dengan Ustadz Muhammad Hasyim HS

Ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya lembaga persaudaraan untuk masa-masa mendatang. Ustadz Abdullah Said sangat menjaga kemungkinan timbulnya hal-hal yang dapat merusak persaudaraan. Ditolaknya tawaran menunaikan ibadah haji oleh Pak Walikota H.Asnawie Arbain tidak lepas dari pada menjaga keutuhan ukhuwwah, jangan sampai terjadi keretakan persaudaraan, kalau hanya beliau sendiri yang dinaikkan haji sementara kawan-kawan seperjuangannya tidak. Beliau sangat khawatir akan timbul anggapan bahwa,  “Pada waktu berpahit-pahit dan bersusah-susah kita bersama-sama tapi setelah berhasil, hasilnya dinikmati sendiri”. Kalau ungkapan ini sampai terbetik dalam hati kawan-kawan, tidak usahlah keluar dari mulutnya, ini sudah merupakan malapetaka besar bagi pertumbuhan dan kelanjutan Hidayatullah”.
Maka pada 7 April 1982 beliau mengirim surat kepada walikota mengemukakan alasan-alasan penolakan. Khawatir kalau Walikota salah faham, kok ada orang ditawari naik haji menolak. Alasan itu adalah:

1.    Tidak bersedia naik haji sebelum Ustadz Hasan Ibrahim, Ustadz Hasyim HS, Ustadz Nazir Hasan dan Ustadz Usman Palese naik haji.
2.    Sebelum ibu kandung saya naik haji
3.    Pembangunan mesjid sedang berlangsung

Nama-nama yang tersebut dalam poin satu adalah orang-orang yang berjasa mendirikan pesantren ini. Alasan kedua adalah karena takut durhaka kalau mendahului orang tua. Dan yang ketiga adalah takut mendapat sorotan masyarakat sehubungan dengan dimulainya pembangunan mesjid. Khawatir kalau masyarakat menyorot, “Mesjid sedang dibangun, Ustadz kok naik haji, barangkali uang mesjid yang dipakai". Dan kalau sudah ada sorotan demikian maka hancurlah kepercayaan umat kepada saya. Sementara inilah modal dan kekayaan yang harus dijaga. Untuk menjaga perjalanan lembaga  selanjutnya”.

Salah satu media yag dijadikan lemperekat persaudaraan adalah kerja bakti setiap saat terutama pada hari Ahad. “Bukan hasil kerjanya yang terlalu penting tapi adalah terjalinnya keakraban sebagai hasil dari kerja bakti itu.”

Juga sangat sering diadakan makan bersama di Dapur Umum bersama santri-santri dikala ada orang yang mengaqiqah anaknya atau acara-acara lain yang ditempatkan di Dapur Umum. Maka Ustadz Abdullah Said menginginkan Dapur Umum diperbesar bangunannya.

Salah satu penyebab mengapa pelaksanaan pernikahan harus ditangani oleh sebuah panitia karena dikhawatirkan terjadi keretakan akibat dari pernikahan yang ditangani sendiri oleh orang tua. Karena bagi orang yang sering keluar ceramah yang sudah barang tentu banyak jama’ahnya jika melangsungkan pernikahan anaknya atau keluarganya pasti banyak yang datang; dan banyak memberikan kado. Hal ini pasti akan menimbulkan perasaan tidak enak bagi yang kerjanya cuma dikampus dan tidak dikenal orang, pernikahannya pasti sepi. Ini jadinya tidak indah dalam hidup berjama’ah. Ujung-ujungnya akan terjadi gap psikhologis.

Di rumah-rumah dilarang pakai kursi tamu. Karena dikhawatirkan terjadi perlombaan membeli kursi . Dan lagi pula  rumah yang begitu sempit kalau diisi dengan kursi ruangannya akan semakin sempit dan muatannya pasti sangat terbatas. Orang-orang yang suka menggunakan Bahasa Daerah sesukunya pada saat suku lain berada di dekatnya akan mendapat teguran karena khawatir kalau suku lain akan tersinggung, mengira dia yang disinggung. Ini akan merusak persaudaraan. Dan masih banyak sudut-sudut kehidupan yang sering disoroti yang perlu di perhatikan untuk tidak terjadi keretakan persaudaraan sebagai modal yang sangat mahal.

Mengapa shalat berjama’ah begitu ditekankan? Disamping karena agama memang memerintahkan demikian, juga karena merupakan media perjumpaan yang efektif untuk menabur benih-benih persaudaraan dipersemaian jiwa jama’ah ketika mendo’akan lewat  salam yang diucapkan ketika menengok ke kanan dan ke kiri. Apalagi pada saat berjabatan tangan dan bertatapan mata disertai senyum tulus.

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner