Senin, 06 Februari 2012   13. Rabi-ul-Awwal 1433
Dampak Positif Kalpataru PDF Cetak E-mail
Mesin Pembangunan
Jumat, 06 Maret 2009 07:00
Perolehan trophy ini memang sangat besar maknanya bagi Hidayatullah. Ustadz Abdullah Said sering mengungkapkan bahwa, “Tropy ini hanya terdiri dari emas seberat 0,5 kg yang harganya tidak seberapa namun yang paling bermakna disini adalah momen menerima penghargaan ini. Begitulah kalau Allah SWT ingin menolong hambaNya, ada-ada saja jalurnya”.
Yang dimaksud lewat  ungkapan itu adalah karena pada saat penghargaan ini diterima, Kaltim sedang dilanda keresahan karena menjadi sorotan dunia dengan terbakarnya hutan tropis seluas 3,5 juta hektar yang merembes sampai di Kalbar. Hutan yang merupakan paru-parunya dunia sekarang ini yang nilainya sangat tinggi sehingga kerugian yang dialami tidak dapat dinilai dengan rupiah karena menyangkut kepentingan kemanusiaan. Tiba-tiba Kaltim lewat Pondok Pesantren Hidayatullah menerima penghargaan disektor lingkungan hidup. Ibarat penawar sedingin bagi Kaltim yang sementara babak belur dengan sorotan dan serangan dari berbagai penjuru dunia. Dengan penghargaan ini sorotan itu agak reda karena ada fakta walaupun hanya secuil yang ditunjukkan Hidayatullah bahwa orang Kaltim bukan tidak mengerti masalah lingkungan seperti yang ditudingkan selama ini.

Bagi Pesantren Hidayatullah sendiri tidak sedikit hikmah dan keuntungan lahiriyah yang dapat diraih. Pemerintah Kaltim semakin yakin dengan kerja yang selama ini digeluti Ustadz Abdullah Said bersama santri-santrinya.  Ustadz Abdullah Said membuktikan apa yang sering diceramahkan bahwa Islam itu mengajarkan yang namanya kepedulian kepada lingkungan. Tentang kebersihan, keasrian, keteraturan dan keindahan. Inilah terjemahan dari “robbul ‘alamin”.

Dalam laporan Ustadz Abdullah Said di depan peserta kuliah malam Jum’at   pada 14 Juni 1984 dikatakan bahwa,  “Banyak hikmah yang didapatkan lewat kunjungan ke istana negara dengan bertemu dengan Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah serta kunjungan kepada 10 orang menteri Kabinet Pembangunan. Timbul dalam hati saya waktu menerima penghargaan itu dari tangan Pak Harto, ‘Siapa tahu nanti saya yang menggantikan engkau’ “.

Pengarahan berikut yang disampaikan Ustadz Abdullah Said pasca kalpataru adalah pada Senin 9 Juli 1984. Dalam pengarahan itu disampaikan bahwa, “Hendaknya hadiah kalpataru ini dapat dibaca sebagai satu isyarat untuk kita lebih mensyukuri karunia pemberian Allah SWT agar Allah memberikan yang lebih banyak dan lebih bernilai lagi.  Untuk itu diharapkan kepada seluruh santri dan warga biasakanlah memecahkan problem, jangan tahunya membuat problem. Kita semakin dituntut tampil mengisi abad kebangkitan Islam pada abad XV Hijriyah ini. Jangan Cuma mengandalkan Abdul Rahman Wahid, Nurcholish Madjid dan Syafii Ma’arif sebagai simbol kebangkitan Islam modern di Indonesia. Karena kebangkitan yang diembannya tidak jelas bagi kita. Kuatir kalau mengarah kepada sekularisasi. Mari kita semakin membenahi diri dengan semakin meningkatkan etos kerja; semakin menggencarkan ibadah; semakin berfikir positif. Insya Allah kalau mesjid yang kita sementara bangun (mesjid berukuran 40m x 48m ) ini rampung; jalanan kampus telah diaspal; Taman Kanak-Kanak sudah dibangun dan dilengkapi peralatannya, demikian pula proyek-proyek lain yang tengah kita kerja telah selesai, yakinlah pemerintah dan masyarakat akan semakin jatuh cinta kepada kita.  Ibarat seorang gadis yang telah berdandan, murah senyum, semakin cantik dan manis kelihatan. Sehingga semakin banyak yang melirik dan tertarik melamarnya. Penghargaan-penghargaan dalam bentuk lain akan semakin banyak diberikan kepada kita”.

Briefing  yang tidak kurang pentingnya pasca kalpataru adalah pada Hari Selasa 31 Juli 1984. Ustadz Abdullah Said menekankan, “Kelembutan pemerintah kepada kita  adalah disebabkan karena disamping kerja kita yang pemerintah merasa tertolong dengannya, juga berkat do’a kita yang selalu kita ucapkan diakhir pengajian yaitu Wa la tusallith ‘alaina man la yarhamna,  Janganlah Engkau angkat pemimpin yang tidak mengasihani kami.

Prospek missi Hidayatullah sangat meyakinkan. Bukan  lagi sesuatu yang terlalu sulit untuk mencapainya. Yang penting  kita mampu mempertahankan dan meningkatkan keseriusan dan kerja keras kita disertai dengan do’a dan munajat yang gencar. Jangan seperti saya sewaktu masih di Muhammadiyah. Karena dulu saya orang Muhammadiyah dan sekarang masih Muhammadiyah, do’a disepelekan. Orang berdo’a sering diolok apalagi kalau berdo’a sambil angkat tangan. Padahal pendiri dan perintis Muhammadiyah tidak demikian halnya. Saya sendiri tidak tahu siapa punya kerja menyepelekan do’a itu. Nanti setelah jadi buronan di Pare-Pare, akibat pengganyangan perjudian di Makassar, baru kenal yang namanya berdo’a dengan serius. Yang jelas do’a itu penting, bukan setelah berusaha maksimal dan tidak berhasil baru berdo’a. Tapi kita berdo’a sebelum memulai pekerjaan. Do’a yang paling  senang saya baca waktu dalam kejaran  adalah do’a Nabi Musa ketika dikejar oleh Fir’aun. Waktu itulah saya rasakan  yang namanya do'a yang khusyu, yakni: “Itulah mereka sedang mengejar aku, dan aku bersegera kepadamu. Ya Tuhanku, agar Engkau ridha kepadaku”  (S.Thaha:84).

Perhatian Pemerintah Kaltim, khususnya Balikpapan semakin besar. Hubungan baik ini memang telah terjalin sejak Walikota H.Asnawie Arbain. Tapi setelah memperoleh kalpataru perhatian itu kian meningkat. Perlu diketahui bahwa blangko permintaan zakat Pondok Pesantren Hidayatullah kepada masyarakat sejak tahun 1974 itu ditanda tangani oleh Walikota H.Asnawie Arbain. Kemudian tradisi ini dilanjutkan oleh Walikota Syarifuddin Yoes. Bahkan Pak Yoes, demikian panggilan akrabnya, pernah menanda tangani proposal pembangunan mesjid Hidayatullah ribuan lembar secara langsung, tidak menggunakan stempel tanda tangan. Ketika diingatkan Pak Yoes menjawab, “Semoga menjadi amal bagi saya”.  Pada waktu Tjutjup Suparna menjadi walikota dan Pak Imdaad Hamid sebagai wakilnya, juga tidak kurang perhatiannya kepada Pondok Pesantren Hidayatullah. Hanya untuk penanda tanganan formulir permintaan zakat dianggap sudah tidak tepat mengingat jumlah Pondok Pesantren sudah banyak di Balikpapan. Beda halnya sewaktu Hidayatullah masih sebagai pemain tunggal di Balikpapan.

Pemerintah Balikpapan khususnya dan Pemerintah Kaltim umumnya semakin dalam kepercayaannya kepada Hidayatullah dengan perolehan hadiah kalpataru. Terasa sekali oleh pemerintah bahwa Hidayatullah memang dapat dijadikan mitra yang baik dalam pembangunan, bukan hanya dari segi pembangunan  mental spiritual tapi juga pembangunan fisik.

Masyarakat umum juga semakin banyak yang menyalurkan  zakat dan sumbangan insidentilnya ke Pondok Pesantren Hidayatullah karena merasa bahwa sumbangan yang diberikan telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Kunjungan tamu-tamu juga semakin gencar. Mulai dari tingkat menteri sampai tamu-tamu dari lingkungan pemerintah Balikpapan. Dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO)  juga tidak sedikit yang berkunjung.

Kedatangan tamu-tamu ini tidak datang begitu saja tapi membawa rezeki baik berupa sumbangan uang atau sumbangan dalam bentuk natura ataukah sumbangan pemikiran yang tidak kurang pentingnya untuk pengembangan Pondok Pesantren ini ke depan.

Disampaikan Ustadz Abdullah Said lewat  pengarahannya pada Kamis 9 Agustus 1984, ba’da dhuhur bahwa, “Kita patut bersyukur dengan karunia Allah SWT yang diberikan kepada kita akhir-akhir ini sehingga ada beberapa gangguan pikiran dapat terpecahkan, seperti:  lunasnya utang tanah di Karang Bugis sebanyak Rp 50.000.000.- Kebaikan hati Pak H. Moch.Hasan Basri, Manajer Umum Pertamina dan Pimpro Pembangunan Kilang Pertamina yang diborong Bechtel menyumbang seng tebal untuk seluruh atap mesjid dan uang tunai Rp 30.000.000. untuk lantai keramik mesjid. Memberi bayangan kepada kita bahwa Insya Allah pada 1 Muharram 1405, yang tinggal sebulan lagi, mesjid yang berukuran 40m x 48m dapat dirampungkan.  Dan rencana peningkatan kesejahteraan santri dan warga dapat diwujudkan. Perasaan Ustadz Abdullah Said sangat lega setelah utang Rp 50.000.000, itu lunas. Karena menurut beliau, “Kalau ada utang harus segera dibayar kalau kita sudah punya uang,  jangan ditunda-tunda atau dialihkan kepada yang lain. Karena  disamping untuk lebih menambah kepercayaan masyarakat juga untuk menentramkan perasaan, karena sebagaimana yang dikatakan nabi bahwa, ‘orang yang berutang gundah gulana diwaktu malam sengsara disiang hari’ ”. Beginilah cara beliau menjaga citra lembaga yang dipimpinnya agar dapat terhindar dari anggapan yang negatif.

Untuk tetap menarik perhatian semua pihak yang sudah sangat salut dengan penghargaan kalpataru itu Ustadz Abdullah Said mengajak beberapa orang untuk menjaga dan menata kampus agar nama baik yang telah kita dapatkan lewat penghargaan kalpataru ini dapat tetap dipertahankan. Orang-orang yang secara resmi ditetapkan  untuk pekerjaan ini pada Hari Rabu 29 Juli 1987 adalah: Ali Kalan, Mustafa Katutu, Syafaruddin Abdullah, Muhammad Arsyad, Herman, Sulaiman, Bahar Aga, Muhammad Alim, diajak berbincang-bincang. Dalam pertemuan itu mengingatkan bahwa, “Kita ingin mengajak sebanyak-banyaknya orang ke Hidayatullah tapi bukan dengan bahasa lisan tapi dengan kenyataan dimana kampus ini semakin diperindah sehingga mendatangkan pesona yang lebih menawan dengan:

1.    Tanaman yang menghijau dan produktif
2.     Manusia-manusia yang hidup dari makanan yang halal

Komentar (0)Add Comment

Tulis komentar.
Perkecil | Perbesar

security code
Tulis huruf yang tampil.


busy
 

Baitul Maal Hidayatullah

BMH Pusat

Rekening Donasi

Baner