| Membaca Pilar membangun Peradaban |
|
|
|
| Kamis, 03 April 2008 16:19 | |||||||||
Halaman 1 dari 7 اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّك الَّذِيْ خَلَقَ . خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ . الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita, “Yang pertama sekali mendahului kedatangan wahyu kepada Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi-mimpi yang benar. Setiap mimpi beliau selalu terbukti (kebenarannya) secara nyata, seterang cahaya di pagi hari. Setelah itu beliau terdorong untuk ber-khalwat di Gua Hira untuk beribadah beberapa malam dan kembali lagi kepada keluarganya untuk mengambil bekal menyendiri berikutnya. Hingga suatu ketika datang kepada beliau ‘al-Haqq’, Kebenaran Mutlak, yaitu dengan datangnya malaikat yang menyampaikan Iqra’ dan seterusnya.” (HR al-Bukhari). Mimpi yang benar, menurut Nabi Muhammad shalla-llahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari, adalah 1/46 bagian wahyu kenabian. “Secara kebetulan”, waktu enam bulan yang beliau alami sebelum turunnya Iqra’ merupakan 1/46 dari masa kenabian Rasulullah shalla-llahu 'alaihi wa sallam yang berlangsung selama 23 tahun itu. Beberapa waktu menjelang turunnya wahyu pertama, Muham-mad shalla-llahu ‘alaihi wa sallam seringkali mendengar suara yang berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau ada-lah utusan Allah yang benar”. Dan ketika beliau mengarahkan pandangan mencari sumber suara itu, beliau mendapati seluruh penjuru telah dipenuhi oleh cahaya yang gemerlapan dan hal ini mencemaskan beliau sehingga dengan tergesa-gesa beliau kembali menemui istri tercintanya. Khadijah lalu menyarankan menemui Waraqah bin Naufal, seorang tua yang mempunyai pengetahuan tentang agama-agama terdahulu. Dalam pertemuan tersebut terjadilah dialog. “Dari mana engkau mendengar suara tersebut?” tanya Waraqah. “Dari atas,” jawab Nabi. Waraqah kemudian berkata, “Yakinlah bahwa suara itu bukan bisikan setan, karena setan tidak akan mampu datang dari arah atas (simbol ketinggian Tuhan), tidak pula dari arah bawah (tempat menundukkan kening untuk bersujud). Suara itu adalah suara dari malaikat.” Hal ini sejalan dengan al-Quran, surat al-A’raf : 17. |








