|
Dalam kamus-kamus bahasa, kata shabr berarti menahan, baik dalam pengertian material seperti menahan orang dalam tahanan, maupun non-material seperti menahan jiwa dari keinginannya. Dari akar kata shabr diperoleh sekian bentuk kata dengan beragam arti, diantaranya shabara bihi, yakni menjamin, pemuka masyarakat yang melindungi kaumnya. Dari akar kata tersebut terbentuk pula kata yang berarti gunung yang tegar dan kokoh, awan diatas awan lainnya, tanah yang gersang, dll. Kesabaran menuntut ketabahan menghadapi sesuatu yang sulit, berat, pahit yang harus diterima dan dihadapi dengan tanggung jawab. Sastra Arab mengatakan, “Shabar itu awalnya pahit melebihi empedu dan berakhir dengan manis melebihi madu”. Ulama etika mendefinisikan shabr sebagai menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan-keinginan demi mencapai sesuatu yang lebih baik.
Seorang yang menghadapi rintangan dalam pekerjaannya, terkadang hati kecilnya membisikkan agar ia berhenti walaupun yang diharapkan belum tercapai. Bisikan jiwa ini jika ditahan, ditekan, dengan terus melanjutkan usaha, ini berarti perwujudan dari hakikat sabar. Sabar disini bermakna tabah. Seseorang yang dirundung duka, jika mengikuti nafsunya, ia akan meronta, menggerutu kepada Tuhan, manusia. Tetapi bila ia menahan, dan menerima musibah dengan ridha sambil menghibur dirinya bahwa di balik musibah ada hikmahnya. Berarti ia sabar menerima ketetapan-ketetapan Tuhan. Dari contoh yang kedua ini, dikemukakan suatu hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, bahwa suatu ketika Rasul shalla-llahu 'alaihi wa sallam menemukan seorang wanita sedang menangis di hadapan sebuah kubur. Nabi kemudian bersabda kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita tersebut menjawab, “Pergilah, jangan ikut campur urusanku. Engkau tidak tertimpa seperti apa yang menimpaku”. (Wanita tersebut tidak mengenal Nabi sehingga sewaktu disampaikan kepadanya bahwa yang menasihatinya itu adalah Rasulullah, ia sadar dan menyesal. Kemudian ia mengunjungi Nabi di rumah beliau). Beliau tidak memiliki penjaga-penjaga pintu dan ia menyampaikan penyesalannya dengan berkata, “Aku tidak mengenalmu”. Nabi menjawab, “Hakikat kesebaran dinilai pada saat-saat pertama dari kedatangan musibah,” (maksudnya, bukan setelah berlalu sekian waktu).
Ahli Tafsir ar-Raghib al-Asfahani menjadikan ayat 177 surat al-Baqarah sebagai kesimpulan dari segala kesabaran yang dituntut al-Qur’an. Sabar menghadapi kebutuhan yang mengakibatkan kesulitan tergambar dalam kata al-ba’saa’, sabar dalam menghadapi musibah dicakup dengan kata adh-dharra’, sabar dalam menghadapi musuh tergambar dalam kata hiina al-ba’si.
وَالصَّابِرِيْنَ فيِ الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ “Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.” Dalam al-Qur’an, ditemukan perintah shabar berkaitan dengan banyak konteks: 1) Dalam menanti keputusan Allah (QS Yunus : 109). 2) Menanti datangnya janji Allah dan kemenangan (QS ar-Ruum : 60). 3) Menghadapi ejekan dan gangguan orang-orang yang tidak percaya (QS Thaha : 130). 4) Menghadapi kehendak nafsu untuk melakukan pembalasan yang tidak setimpal (QS an-Nahl : 127). 5) Dalam melaksanakan ibadah (QS Maryam : 65; Thaha : 132). 6) Dalam menghadapi malapetaka (QS Luqman : 17). 7) Dalam usaha memperoleh apa-apa yang dibutuhkan (QS al-Baqarah : 153).
Tawakkal (berserah diri kepada Allah)
Rasulullah Saw bersabda : Tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab dan disiksa.
هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتُوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (متفق عليه) “Mereka adalah orang-orang yang tidak minta dibuatkan mantera, tidak membakar (mengecos) dirinya dengan besi, tidak tathayyur (pesimis yang membuatnya tidak berbuat apa-apa), dan bertawakkal kepada Allah.” (Muttafaq ‘Alaih)
Tawakkal berbeda dengan ittikal. Tawakkal adalah al-akhdzu bil asbab (mengambil faktor-faktor menuju sukses), sedangkan ittikal menyandarkan diri dengan kebesaran Allah secara pasif.
Rasulullah tidak memasuki medan perang hingga mempersiapkan bekal yang cukup, faktor-faktor pendukung kemenangan, memilih lokasi perang, juga timing (pengaturan waktunya). Beliau tidak memasuki perang di hari yang panas, kecuali setelah suasananya menjadi dingin, dan melakukan penyerangan dengan rencana yang matang, mengatur barisan tentara-tentaranya. Setelah merampungkan persiapan yang matang, beliau mengangkat kedua tangannya berdoa kepada Allah, sebagai bentuk tawakkal. Setelah mempersiapkan perbekalan material dan immaterial, lalu menyerahkan keberhasilan dan kemenangan hanya kepada Allah. Bukan ber-tawakkal pada persiapannya itu. Tawakkal adalah memaksimalkan ikhtiyar dan ketentuan akhir adalah hak prerogatif Allah. Bekerja cerdas dan berdoa keras.
Langkah-langkah yang disusun Rasulullah Saw untuk keberhasilan hijrah ke Madinah sebagai berikut : 1) Memilih sahabat pilihan yang bisa menemani perjalanan, Abu Bakar ash-Shiddiq. 2) Menyiapkan logistik didelegasikan kepada Asma binti Abu Bakar. Ia membawa makanan dan minuman dengan ikat pinggangnya, hingga dijuluki Dzatun nithaqaini (wanita yang mempunyai dua ikat pinggang). 3) Menyiapakan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit dan panjang. 4) Menyertakan seorang penunjuk jalan yang menguasai rute perjalanan yang akan dilalui. 5) Mengelabuhi musuh yang mengepung rumahnya dengan menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan tempat tidurnya. 6) Ketika beliau dikejar, beliau dan temannya bersembunyi di Gua Tsur. 7) Ketika Abu Bakar mengatakan, “Sekiranya salah seorang dari mereka melihat di bawah kakinya, mereka pasti melihat kita, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai Abu Bakar, bahwa pihak ketiga adalah Allah.”
Rasulullah bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenarnya, maka kalian pasti diberi rizki sebagaimana burung diberi rizki, ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian pulang pada sore hari harinya dalam keadaan kenyang.” (HR at-Tirmidzi).
اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ (رواه البخاري ومسلم)
“Ya Allah yang menurunkan Al Kitab, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan sekutu, hancurkan musuh-musuh itu, dan menangkan kami atas mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hijrah Sejak awal perkembangan dakwah, lingkungan yang kondusif menjadi prioritas. Menanam benih kebenaran di lahan yang tidak subur maka benih itu tidak akan tumbuh dengan subur. Dalam pendidikan anak saja, lingkungan harus dipersiapkan dengan baik. Di rahim mana benih itu ditanam, kondisi ruhani ketika menanam, dan lain-lain.
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ إِلىَ مَنْ يُخَالِلُ (رواه أبو داود والترمذي) “Seseorang itu mengikuti agama kawannya, maka hendaklah kalian melihat salah seorang diantara kamu dengan siapa ia berteman.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Manusia pada dasarnya anak dari sebuah lingkungan (ibnul bi-ah). Selama tigabelas tahun Rasulullah berdakwah di Makah, tetapi yang menjadi pendukung beliau tidak sampai ratusan orang. Berbeda dengan dakwah beliau di kawasan yang baru yang kondusif (kawasan yang didesain Islami) di Madinah. Dalam waktu 10 tahun beliau membawa pasukan obor berjumlah 10.000 orang untuk memasuki Makah dengan cara damai (nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, Bhs. Jawa). Ahli sastra Arab mengatakan, “Seseorang itu diperbudak oleh kebiasaan dan lingkungannya”.
 |