وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
“Dan Tuhanmu, agungkanlah”
Mustahil seorang da’i sukses mensucikan diri dari niatan yang mengotori keikhlasannya tanpa penghayatan kalimah takbir dengan benar. Dengan ucapan takbir setiap ibadah shalat sesungguhnya kita dituntun untuk mewaspadai ilah-ilah dalam diri kita yang menandingi Allah Yang Maha Akbar. Di era globalisasi ini secara halus dan perlahan, syetan dan para prajuritnya dengan berbaju teknologi komunikasi menampilkan berbagai tandingan Tuhan yang terpaksa kita agungkan. Betapa sering kita sekarang membesarkan ilmu, kekuasaan, kekayaan dan diri kita sendiri. Kita meng-akbar-kan kekayaan karena kita bersedia melakukan apa saja untuk medapatkannya, tanpa harus memperdulikan halal dan haram, tanpa menghiraukan ancaman Allah, bahkan kita sering bersikap persetan dan menutupi bisikan batin kita. Ketika Allah mengatakan dalam firman-Nya, jangan ambil kekayaan itu karena anda akan merugikan orang lain, anda akan memeras dan menyengsarakan orang yang lemah, anda mengambil hak mereka yang seharusnya anda kasihani dan anda sayangi. Anda persetankan seruan dari langit itu karena didepan anda telah berdiri dengan megah simbol kebesaran, kekayaan dan kekuasaan. Karena terpesona dengan kegemerlapan dunia kita tidak bisa mengatur waktu shalat kita. Kita tidak punya waktu lagi untuk bersilaturrahim, menjenguk orang yang sakit, tidak sempat lagi mengunjungi masjid yang berdekatan dengan rumah kita secara rutin.
سَيَأْتِيْي بَعْدَكُمْ قَوْمٌ يَأْكُلُوْنَ اطاييب أَطَايِيْبَ الدُّنْيَا وَأَلْوَانَهَها وَيَنْكِحُوْنَ اجمل أَجْمَلَ النِّسَاءِ والوانها وَأَلْوَانَهَا وَيَلْبَسُوْنَ اجمل أَجْمَلَ الثِّيَابِ والوانها وَأَلْوَانَهَا, لَهُهمْ بُطُوْنٌ مِنَ الْقَلِيْلِ لاَ تَشْبَعُ وَأَنْفُسٌ بِالْكَثِيْرِر لاَ تَقْنَعُ عَاكِفُوْنَ عَلَى الدُّنْيَا يَغْدُوْنَ وَيَرُوْحُوْنَ اليها إِلَيْهَا اِتَّخَخذُوْهَا الهة أَلِهَةً مِنْ دُوْنِ الههم إِلَهِهِمْ وَرَبًّا دُوْنَ رَبِّهِهمْ ,اإِلىَ امرها أَمْرِهَا يَنْتَهُوْنَ , وَلِهَهوَاهُمْ يَتَّبِعُوْنَ , اولئك أُوْلَئِكَ شِرَارُ امتيأُمَّتِيْ (رواه الطبراني)
“Akan datang sesudahmu kaum yang memakan kemewahan dunia dengan segala ragamnya, mengendarai kendaraan yang bagus dengan segala ragamnya, menikahi wanita-wanita cantik dengan segala ragamnya, memakai pakaian yang seindah-indahnya dengan segala ragamnya. Mereka mempunyai perut yang tidak kenyang dengan yang sedikit, dan nafsu yang tidak puas dengan yang banyak. Mereka menundukkan diri kepada dunia, pagi dan sore harinya mengejar dunia sebagai tuhan dan pengatur mereka. Mereka mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka adalah sejelek-jelek ummatku.” (HR. Thabrani). Bila dunia, ilmu, kekuasaan kita besarkan, maka bukan saja Allah tampak kere, kurus dan kurimen, sehingga Dia kita anggap tidak berdaya, tidak lagi kita libatkan dalam setiap keputusan penting kehidupan kita. Bahkan sesuatu yang terlihat dengan jelas kebenarannya menjadi kecil, mungil, tidak kelihatan. Karena penglihatan batin (bashirah) kita buta. Kita acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain, kita bersenang-senang diatas kesengsaraan saudara kita. Tidak pernah terlintas dalam batin kita ketika menikmati makanan lezat, di tempat lain ada seonggok tubuh kurus yang direnggut nyawanya perlahan-lahan karena tidak sanggup membayar biaya rumah sakit. Ada bayi-bayi merah yang kehilangan dekapan dan air susu karena ibunya tidak bisa meninggalkan rumah majikannya. Ilah lain yang kerapkali kita besarkan adalah kekuasaan.
فَهَلْ عَسَيْتُمْ ان إِنْ تَوَلَّيْتُمْ ان أَنْ تُفْسِدُوْا فيِ الارض اْلأَرْضِ وَتَقْطَعُوْا ارحامكمأَرْحَامَكُمْ (محمد : 22)
“Tetapi, jika kamu berkuasa, kamu pasti menimbulkan kerusakan di bumi, dan kamu putuskan persaudaraan.” (QS Muhammad : 22) Qatadah mengatakan, “Bagaimana kamu melihat suatu kaum yang berpaling dari kitab Allah, bukankah mereka menumpahkan darah dengan cara yang haram, memutuskan tali silaturrahim, dan durhaka kepada Yang Maha Penyayang?” (Shafwatut Tafasir III, hal. 210). Bila orang sudah salah kaprah dalam menyikapi kekuasaan, Allah pun menjadi kecil, kebenaran menjadi kabur. Kedudukan tidak lagi dianggap sebagai amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkannya di hari kiamat, tetapi diterima sebagai alat untuk berbuat sewenang-wenang. Kekuasaan yang seharusnya dipakai untuk melindungi yang lemah, mengayomi yang dirundung derita, dan membela yang teraniaya, malah digunakan untuk melindungi yang kuat, mengayomi yang zhalim, membela yang menganiaya dan mendukung para koruptor berdasi dan para penghisap kekayaan negara. Kekuasaan berbalik menjadi berpihak kepada yang berpunya dan yang berkuasa. Bila kita gila jabatan, bukan saja ancaman Allah yang menjadi kecil, akhirnya menganggap diri kita besar, kita berubah menjadi orang yang menganggap diri tidak pernah salah dan pantang disalahkan, dikritik, sekalipun tidak benar. Kita menganggap paling benar sekalipun jauh dari kebenaran. Kita menganggap lawan terhadap orang yang menasehati kita dengan tulus. Kita senang mendengarkan orang-orang yang memuja dan membesarkan kita, seperti kata Fir’aun :
انا أَنَا رَبُّكُمُ الاعلىاْلأَعْلَى (النازعات : 24)
“Akulah Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (QS an-Nazi’at : 24). Ketika kekayaan, kekuasaan, ilmu sudah ada di genggaman kita, akhirnya kita menuhankan diri kita sendiri. Aturan buatan kita sendiri kita persepsikan lebih baik dari aturan Allah. Kita menjadi takabbur. Bila hanya Allah saja yang kita yakini Maha Besar, maka takbir akan menghunjam di hati. Kekayaan, kekuasaan, ilmu, dan totalitas potensi yang kita miliki kita pandang menjadi karunia dari Allah yang kita selalu syukuri. Segala atribut kebesaran, kemewahan, kekayaan, kekuasaan kita gunakan untuk mengabdi, tunduk, patuh, dan mengharumkan, membesarkan asma Allah.
وَمَنْ يُعَظِّمْ شعائر شَعَآئِرَ اللهِ فانها فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ (الحجّ : 32)
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj : 32).
 |