| Membangun citra Diri |
|
|
|
| Rabu, 28 Mei 2008 12:59 | |||||
Halaman 1 dari 3 وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ “Dan pakaianmu, bersihkanlah.” Yakni sucikanlah pakaianmu dari hal-hal yang najis dan kotoran. Karena seorang mukmin itu baik dan suci, tidak patut untuk membawa sesuatu yang kotor. Ibnu Zaid berkata, “Orang-orang musyrik dahulu tidak bersuci, maka Allah memerintahkannya untuk membersihkan diri dan pakaiannya”. Ibnu Abbas berkata, “Dianalogikan pakaian itu dengan hati. Dan maknanya sucikanlah hatimu dari dosa dan masiat”. Orang Arab berkata, “Si Fulan itu pakaiannya bersih yakni suci”, yang dengan sifat itu mereka menginginkan bersih dari aib dan akhlak yang tercela. Mereka mengatakan, “Si Fulan pakaiannya kotor,” maksudnya berhias dengan akhlaq yang tercela. Ar-Razi mengatakan, “Sebab kebaikan julukan ini, karena pakaian itu sesuatu yang melekat pada seseorang, oleh karena itu mereka menyebut pakaian untuk menjuluki manusia”. Ada yang berpendapat, “Pakaiannya bagus artinya dia bisa menjaga harga dirinya dalam sarungnya”. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ “Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah” Yakni, jauhilah penyembahan terhadap berhala dan arca dan jangan sekali-kali menghampirinya. Ibnu Zaid mengatakan, “Tuhan-tuhan yang dahulunya mereka menyembahnya. Allah memerintahkannya untuk menjauhinya dan tidak mendekatinya dan mendatanginya lagi”. Ada isolasi perasaan, persepsi secara total. Imam al-Fakhr mengatakan, “Ar-rijz artinya sebutan untuk sesutu yang kotor seperti ar-rijs.” Allah berfirman, “Maka jauhilah olehmu rijs dan autsan (berhala).” “Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah”, ungkapan ini mencakup untuk memperbaiki akhlaq. Seakan-akan Allah berfirman : tinggalkanlah kebodohan, lacut, semua kejelekan, dan janganlah berperilaku dengan akhklaq orang-orang musyrik. Yang dimaksud al-hajru disini adalah perintah untuk menjauhinya secara terus menerus. Sebagaimana doa yang diucapkan orang muslim dalam surat al-Fatihah, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus,” maksudnya tetapkanlah kami dalam petunjuk ini. Program inti Sikap orang lain terhadap kita dibentuk oleh ketrampilan kita membangun citra diri. Semua buku-buku yang berkaitan dengan fiqh dakwah, yang dijadikan fokus pembahasan adalah dai, bukan obyek dakwah. Karena kepribadian da’i lebih fashih dari materi dakwah. Itulah sebabnya perintah dalam surat al-Muddatsir adalah membersihkan diri da’i dari cacat moral sebelum berdakwah. Ada beberapa program berikut yang perlu menjadi perhatian khusus. Pertama,Tazkiyatun Nafs. Dahulu bangsa Arab adalah bangsa yang kotor. Kepercayaan kepada Allah (‘aqidah) mereka telah terkontaminasi oleh pemujaan berhala (ashnam) dan benda-benda alam yang dianggap bertuah. Ekonomi masyarakat (iqtishad) telah tercemari dengan penindasan yang kuat terhadap yang lemah, kesewenang-wenangan yang kaya terhadap yang miskin, dan keserakahan the have kepada yang kurus, kere dan kurimen. Kebudayaan mereka ternodai dengan kerendahan akhlaq penghinaan kepada wanita, perbudakan sesama dan pemujaan terhadap hawa nafsu. Hukum mereka adalah peradilan rimba. Yang kuat selalu benar, mudah memperoleh akses ekonomi dan kekuasaan. Yang lemah selalu kalah dan salah. Yang tidak memiliki posisi secara formal terisolir dan tersudut. Agama mereka kaya dengan seremonial, tetapi miskin dalam aplikasi. Agama yang membonsai pikiran dan hati nurani. Orang-orang yang pandai dibonsai potensinya (tsallajatul ulama’). Allah membangkitkan hamba yang dipilih-Nya, Muhammad bin Abdullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Ia sendiri orang yang suci (musthafa) dan dipercaya (al-amin). Ia lahir dari keluarga yang shaleh, pengurus, pemelihara, dan penjaga al-Baitul Atiq (rumah Allah yang suci). Mereka juga menyambut tamu-tamu Allah (dhuyufur Rahman) pada musim haji. هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فيِ الا اْلأُمِّيِّيْنَن رَسُوْلاً مِنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اياته آيَاتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُم المُ الْكِتَابَ وَالْحِحكْمَةَ وان وَإِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ (الجمعة : 2)ن “Ia bangkitkan di tengah bangsa nan ummi seorang rasul untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, walaupun sebelumnya mereka dalam kesesatan.” (QS al-Jumu’ah : 2). Muhammad memulai mengajak masyarakatnya yang tidak terstruktur (nomaden) dan kotor itu dengan meniupkan angin kesucian. Ia mengajak kembali mengingat nama Allah dan memuja-Nya. Ia mengingatkan bahwa manusia bisa tercemar citra dirinya karena terlalu mengutamakan dunia dan melupakan hari esok yang pasti terjadi. Ia menyatakan dirinya sebagai pelanjut para pejuang kemanusiaan sepanjang sejarah. Penerus para anbiya’, syuhada’, shalihin. Pewaris perjuangan Nabi Ibrahim dan Musa ‘alaihimas salam. قَدْ افلح أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى . , وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى , . بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَحيَاوةَ الدُّنْيَا . وَاْلاأَخِرَةُ خَيْرٌر وَ اأَبْقَى . ان إِنَّ هَذَا لَفِيْ الصُّحُفِ الاولى اْلأُوْلىَ . صُحُفِ ابراهيم إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى .(الأعلى : 14-19) “Sungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya lalu mengingat Tuhannya dan memuji-Nya. Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. Yang ini, sungguh ada pada suhuf terdahulu suhuf Ibrahim dan Musa.” (QS al-A’la : 14-17). قَدْ افلح أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (الشمس : 9-10) “Sungguh, berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Celakalah orang yang mencemarinya.” (QS asy-Syams : 9-10). Secara bertahap berubahlah bangsa Arab. Mereka memilih kesucian sekali pun harus bersimbah darah, air mata dan nyawa. Sumayyah bersama suaminya Yasir dan anaknya ‘Ammar membersihkan aqidahnya dari kemusyrikan. Sekeluarga memeluk Islam. Ia dianiaya, dipukuli, dijemur di tengah padang pasir yang membakar. Padahal ia wanita yang tua renta dan lemah (kaanat ‘ajuzan kabiratan dha’ifatan). Sumayyah bertahan dengan keimanannya. Ia lebih menghargai idealismenya daripada keselamatan dirinya. Abu Jahal datang dengan tombak di tangan. Ia memaksa Sumayyah mengucapkan kata-kata kufur. Rasulullah mengutus sahabat untuk menyampaikan berita gembira di surga kepada Sumayyah. Rasulullah mengizinkan untuk mengucapkan kalimat kufur asal hati tetap beriman. Tetapi, apa jawab Sumayyah? ابلغوا أَبْلِغُوْا عَنِّيْي رَسُوْلَ اللهِ السَّلاَمَ , اإِنَّ سُمَميَّةَ الَّتِيْي طَهَّرَ اللهُ قَلْبَهَا لاَ تَسْتَطِيْعُ ان أَنْ تُلَوِّثَ لِسَانَهَها بِكَلِمَةِ الْكُفْرِ Sampaikan salamku pada Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam Sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah sucikan hatinya dengan iman, tidak akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur. Abu Jahal marah dan menusukkan tombaknya pada rahim Sumayyah. مَا تَتْ عَلَى الْفَوْرِ وَكَانَتْ اول أَوَّلَ شَهِيْدَةٍ فيِ الاسلاماْلإِسْلاَمِ Ia mati karena kehabisan darah. Dan jadilah Sumayyah wanita yang pertama kali syahid dalam Islam. “Inilah buah tazkiyatun nafs, penyucian diri.” |








