| Ketulusan |
|
|
|
| Jumat, 30 Mei 2008 15:33 | ||||
Halaman 1 dari 2 وَلاَ تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Yakni janganlah kamu memberi sesuatu kepada manusia dengan mengharapkan imbalan yang melebihi pemberian itu. Karena orang yang mulia itu berlepas diri dari apa yang diberikan sekalipun dalam jumlah yang banyak. Berilah dengan suatu pemberian yang tidak khawatir tertimpa kefakiran. Ibnu Abbas mengatakan, “Janganlah engkau memberikan sesuatu untuk mencari sesuatu yang lebih baik.” Ada yang berpendapat, “Janganlah engkau memberi agar engkau diberi yang lebih banyak darinya. Rahasia larangan ini agar pemberian itu terlepas dari mengharapkan imbalan untuk menjaga harga diri dan kesempurnaan akhlaq. Nabi memerintahkan dengan semulia-mulia adab dan semulia-mulia budi pekerti.” Ibnu Zaid mengatakan, “Janganlah engkau memberikan nubuwah (tugas kenabian) kepada manusia dengan mengharapkan imbalan dunia yang lebih banyak sebagai penggantinya.” يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تُبْطِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٍ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَ يَقْدِرُوْنَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوْا وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِيْنَ (البقرة : 264) “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedeqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS al-Baqarah : 264). يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوْا قُلْ لاَ تَمُنُّوْا عَلَيَّ إِسْلاَمَكُمْ بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيْمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ (الحجرات : 18) “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah : Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurat : 18). Efek ketulusan وَيَا قَوْمِيْ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللهِ (هود : 29) “Dan (dia berkata) : Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepadamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.” (QS Huud : 29). إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لاَ نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَآءً وَلاَ شُكُوْرًا (الإنسان : 10) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapakan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS al-Insan : 10). Ketulusan dalam terminologi sufistik identik dengan kemurnian dari berbagai campuran kotoran (al-khulushu min al-mustaqdzirat). Ibarat emas murni, maka ia berupa benda yang terbebas dari berbagai imitasi (tiruan). Mengalirnya ketulusan sebagai sesuatu yang hadir begitu saja, tanpa kontaminasi, pretensi, tendensi, kepentingan apapun untuk melakukan sesuatu. Ia laksana mata air yang mengalir deras dari kedalaman telaga hati dengan sendirinya secara spontan. Ia bening adanya. Ikhlas tidak berwarna. Dari sudut pandang para salik (penempuh jalan menuju Allah), ia bebas dari warna merah, jingga, kuning, dan bahkan putih, warna-warna yang menyimbolkan nafsu amarah, nafsu kepemilikan, hedonisme, nafsu kepada lawan jenis, nafsu ingin mempertahankan status quo, nafsu ingin mengambil ini dan itu, sampai nafsu yang ingin memiliki kebenaran itu sendiri. Bening bisa diwarnai apa saja, tetapi ia juga bisa menghadirkan semua warna dan ornamen seperti adanya. |








